Tampilkan postingan dengan label ulan on facebook. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulan on facebook. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Desember 2012

ULTAH TAK HARUS DENGAN LILIN DAN BALON

Ah, kaget juga ketika menyadari kalau belum mendokumentasikan cerita ulang tahun Ulan yang ke-8 menjadi tulisan dalam blog. Meskipun dalam bentuk buku selalu terekam.

Sejak di kelas playgroup ulang tahun Ulan selalu dirayakan bersama teman-temannya. Tidak seperti perayaan ulang tahun pada umumnya yang dilengkapi kue ultah, lilin, balon, dan mungkin seorang badut, ulan tahun Ulan selalu dibuat bertema dan insyaAllah mendidik.

Pada ulang tahun ke-4 – saat Ulan kelas TK A, ketika anak-anak mulai belajar mengenal huruf, pesta ulang tahun dirayakan dengan mengajak teman-teman untuk mencocokkan undangan yang diberi inisial nama mereka masing-masing dengan sebuah bingkisan. Bingkisan tersebut berupa tas kain goody bag yang di salah satu sisinya dijahit berupa huruf. Goody bag yang berisi snack tersebut disebar ke sebuah ruangan untuk dicari oleh anak-anak dengan mencocokkan huruf di undangan dan bingkisan. Sambil bermain, anak pun belajar huruf.

Menarik kan?

Tema ulang tahun ke-5 adalah mendongeng. Dongeng sangat disukai oleh anak-anak, apalagi yang mendongeng adalah orangtua sendiri. Mendongeng mampu menciptakan jalinan ikatan antara orangtua dan anak, membangkitkan rasa ingin tahu anak, member informasi, mengajarkan tanpa menggurui, dsb. Tujuan tersirat acara ini memang mengajak orangtua untuk rajin mendongeng kepada anak. Dongeng untuk ultah kali ini bercerita tentang kisah hewan dalam al Qur’an.

Sebelumnya masing-masing teman Ulan diminta memilih kisah hewan apa yang disukainya. Kemudian Bunda Ulan menggambar hewan tersebut dalam kaos disertai surah dan ayat berapa kisah tersebut tercantum dalam al Qur’an. Kaos itu adalah salah satu bingkisan di ulang tahun kelima ini, selain buku cerita tentang kisah hewan-hewan tersebut yang ditulis oleh Ayah Ulan. Di dalam buku tersebut juga tertulis manfaat dan panduan mendongeng. Jadi, sampai di rumah ayah bunda bisa langsung praktek mendongeng.

Ada kabar menarik. Salah satu teman Ulan, Farrel, yang memilih kisah tentang sapi betina saking senangnya tak mau melepas kaos bergambar sapi betina tersebut.

Ulang tahun ke-6 bertema memasak dengan tajuk Happy Cooking: Me, Fruit & Veggie. Pada undangan disertai permintaan untuk membawa celemek. Itu membuat mereka penasaran.

Selain mengajak anak-anak untuk suka makan buah dan sayur karena sedang dalam masa pertumbuhan, juga untuk mengeksplorasi kemampuan peran dan kinestika anak. Terbagi dalam beberapa kelompok, salah seorang diantara mereka berpura-pura belanja buah dan sayur untuk diolah menjadi 2 menu: dadar gulung isi sayuran segar dan salad buah saus jeruk. Mereka sendiri pula yang mengiris buah menjadi bentuk kotak-kotak kecil dan tipis, memotong sayur, mengaduk, dan menikmatinya.

Ulang tahun ke-7 berupa drama yang bercerita tentang seorang anak yang ingin meng-kloning supaya tidak merasa repot menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Jadi, ada yang bertugas membersihkan kamar, membantu ibu, mengerjakan PR, dsb. Ulan dan teman-temannya sudah berlatih peran untuk pertunjukkan ini. Rencananya drama ini akan ditampilkan di depan ayah bunda mereka. Sayangnya, hari H-nya bertepatan dengan liburan sekolah. Para pemerannya pun berlibur, sehingga drama batal ditampilkan.

Pada ulang tahun berikutnya Ulan meminta tema tentang petualangan. Mengingat animo teman-teman Ulan pada permainan Haunted House beberapa waktu lalu, tema ulang tahun ulan ke-8 ini pun disesuaikan dengan minat mereka. Konsepnya berupa permainan bajak laut berburu harta karun, Treasure Hunt.

Setiap anak dibagi dalam beberapa kelompok yang masing-masing berlomba mencari harta karun sesuai petunjuk atau kode yang mereka temukan. Ada 3 skenario untuk menuju lokasi harta karun itu. Tidak sulit sebenarnya menemukan lokasi harta karun tersebut, namun tidak juga terlalu mudah karena masing-masing kelompok mesti memecahkan kode-kode tertentu berupa puzzle, pengetahuan umum, dan soal-soal yang berkaitan dengan pelajaran mereka di sekolah. Sambil bermain, mereka tetap belajar. Agar sesuai tema dan menjiwai peran, teman-teman ulan disarankan memakai kostum bajak laut.

Seru kan?

Malam hari saat menyusun skenario, ulan berujar, “Aku sudah tak sabar nih! Apa kira-kira bajak lautnya bisa temukan harta karun, nggak ya?”

Mau tahu? Ikuti saja kisahnya... (untuk kisah Treasure Hunt, silakan download file ini: http://www.4shared.com/office/cBa3sX0L/treasure_hunt_on_8th_birthday_.html)




Semoga memberi inspirasi

gria jakarta b1/26, 11/12/12

Rabu, 07 Maret 2012

FILOSOFI MENOLONG

26/02/12
(status ini diberi ‘like’ oleh Mustofa Ali dan Rhara Ritanto, dan dikomentari oleh Rhara Ritanto, Ade Suryana, Rika Anggraini, Zulfa Dispetsum, Vici Safitri, Ayun, Yanti Haryanto)
 Yah, kenapa kita mesti menolong orang?”, tanya Ulan.
Sebuah pertanyaan yang mudah dijawab sebenarnya, sehingga menimbulkan question mark apakah si anak bertanya untuk ingin tahu atau sekedar mengetest kemampuan ayahnya. Okelah kalau begitu… Maka, meluncurlah jawaban-jawaban seperti: “Kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, selalu tolong menolong. Jadi kita mesti suka membantu orang siapa tahu nanti saat kita butuh pertolongan juga akan dibantu”.
“Ah, jawabannya ribet!”, jawab Ulan. “Kita mesti suka menolong, karena sehabis menolong, kita jadi ikutan senang, Yah!”, lanjutnya memberi penjelasan.
Hmm…jawaban yang sederhana. Tapi, kalau dipikir-pikir benar juga dan lebih filosofis, lho! Benar karena biasanya sehabis membantu orang, meskipun waktu, tenaga, dan uang kita keluarkan, tetap saja kita merasa senang. Lebih filosofis, karena jawaban itu bisa berarti lebih dalam.
Secara fitrah, manusia itu hidup untuk mencari kesenangan. Saat kecil kita bermain-main agar merasa senang. Waktu dewasa, kita mencari dan menekuni hobby karena menyenangkan. Saat sibuk bekerja, kita ingin berlibur agar hati senang sehingga tidak jadi stress. Kita menikah dengan pasangan yang menurut kita mampu menyenangkan hati dan pikiran. Jadi, apa yang kita lakukan bermuara pada kesenangan.
Jika kita mencari kesenangan, maka menolong atau membantu orang yang bisa membuat hati senang wajib dilakukan. Lalu, bagaimana jika sehabis membantu orang, kok hati kita malah dongkol? Nah, artinya kita membantu mereka dengan mengharapkan pamrih. Saat pamrih tak terbalas, kita jadi dongol dan marah. Tidak ikhlas.
Itulah inti dari jawaban si Ulan: ikhlas dalam menolong orang membuat hati selalu senang.  
Dalam pikiran polosnya, anak-anak seringkali mengajari kita arti kehidupan. Ayah-bunda, sudahkah kita bercermin kebajikan dari mereka?

(taken from: qaulan sadiida on facebook)

Senin, 14 November 2011

SPECIAL MENU FROM A LITTLE CHEF

14/11/10 – 17.39   
(status ini diberi ‘Like’ oleh Bambang Budi  Hendratmoko Koko , Rekno Sulandjari, Ruhnia Uni Niati, Nur Ainayah al Fatihah, Achmad Fauzi, dan dikomentari oleh Estee Sugesty dan Ruhnia Uni Niati)
“Ayah..bunda, aku mau kasih kejutan!”, ujar Ulan mengagetkan.
Kejutan? Dalam rangka apa?
“Kalau aku masak telur, ayah mau dimasak apa? Lalu kalau bunda, penginnya apa?”, lanjutnya.
Rupanya Ulan mendengar kalau beberapa hari lagi adalah ulang tahun pernikahan orangtuanya. Karena itu dia berencana memberikan kado istimewa buat ayah bunda. Memang, pada setiap hari yang dirasa istimewa – ulang tahun kelahiran, pernikahan, dsb. – kita membiasakan untuk memberi hadiah. Hmm…ternyata tradisi ini mulai diikuti oleh si kecil Ulan.
Namun, sampai menjelang hari H ulang tahun pernikahan, si Ulan tenang-tenang saja. Tak ada tanda-tanda kesibukan merencanakan atau membuat sebuah kado istimewa. Kami pun tak lagi menyinggung dan menganggapnya lupa.
Saat menjelang Maghrib di hari itu, Ulan minta ijin:
“Bunda, aku sama mbak Suci sholat di rumah saja. Ayah sama Bunda di musholla ya..”
Kami pun berangkat ke musholla. Tak punya bayangan apa yang sedang direncanakan oleh anak kami itu. Sepulang dari musholla, kami mendapati meja makan telah siap dengan hidangan. Tertata rapi dengan table-manner ala restoran. Sendok dan garpu terletak di sebelah kanan dan kiri piring. Dua gelas air putih di sebelah kanan. Kecap dan saus pun tersedia. Plus hiasan boneka Princess. Oh, rupanya si anak sedang mempraktekkan etiket pengaturan hidangan seperti yang ia lihat di film atau pas pergi ke kondangan.
Satu piring berisi nasi dan telur mata sapi, sedangkan yang satunya berisi telur orak-arik. Ooo..itu rupanya teka-teki telur yang ditanyakan Ulan. Telur mata sapi adalah kegemaran ayah, sedangkan bunda lebih suka jika diorak-arik.
“Selamat ulang tahun, Ayah Bunda”, kata Ulan, “Ini surprise buat ulang tahun pernikahan Ayah Bunda.”
Ah, mengharukan sekali! Itu adalah kado yang paling istimewa yang pernah kami terima. Tak pernah terbayangkan si anak mempunyai ide dan rencana memberi kado istimewa berupa masakannya sendiri yang ditata ala chef kenamaan. Meskipun hanya sebutir telur.
Terima kasih, anak… Yang pasti, engkau adalah hadiah yang paling luar biasa dari Tuhan. InsyaAllah.

-----------------------

..bila anak hidup dengan apresiasi, ia sedang belajar tentang penghargaan...
(Dorothy Low Nolte)

(dari qaulan sadiida on facebook: bercermin pada anak-anak..)

Minggu, 13 November 2011

“SAPINYA MENANGIS, AYAH!”

Edisi Iedul Qurban
06/11/11 – 08.13
(status ini diberi ‘like’ oleh Nisa Candraningrum dan dikomentari oleh Hady Sys dan Poppy Chiepop Surpiyanto) 
Sore kemarin serombongan anak, teman-teman Ulan, bergegas masuk ke rumah melaporkan perkembangan hewan qurban terbaru.
“Ayah, sapinya menangis!”, ujar mereka serempak.
“Kambingnya juga ada lho!”, teriak si cowok kecil, tak mau kalah memberi informasi ter-updated.
“Dari matanya, keluar air!”, teriak anak yang paling kecil.
“Ah, paling itu kena air hujan”, goda si ayah.
“Ih, beneran kok!”, bantah mereka, meyakinkan
“Kenapa ia menangis, ayah Ulan?”, tanya si Khansa yang peka perasaannya.
-----------------------------
Mengapa hewan qurban menangis? Pertanyaan dari hasil pengamatan anak-anak ini haruslah segera dijawab untuk memenuhi rasa ingin tahunya.
Di email, SMS, ataupun BBM banyak beredar pesan tentang merayakan hari Iedul Qurban. Biasanya disertai dengan gambar atau lelucon tentang hewan qurban. Misalnya tentang lelucon Shaun The Sheep – tokoh domba kartun yang sangat dikenal anak-anak – yang dikabarkan tidak jadi show di Indonesia pada awal bulan November (memang sesungguhnya tak ada jadual) karena takut di-qurban-kan. Atau gambar lucu hewan qurban sapi dan kambing yang saling mendorong satu sama lain untuk menjadi yang pertama di-qurban-kan. Tersirat tak ada keikhlasan disana.
Sebenarnya lelucon atau gambar-gambar lucu tersebut bisa mengaburkan makna tentang Iedul Qurban. Terutama terhadap anak-anak yang membutuhkan konsep diri (terutama akidah dan ibadah) yang jelas. Tentu kita sepakat kalau Iedul Qurban merupakan salah satu ibadah dalam Islam, bukan? Jika sejak dini sudah disodori tentang ketakutan hewan qurban, bisa jadi dalam pikiran kecilnya mereka ‘menangkap pesan’ kalau ber-qurban itu tidak baik karena membuat hewan ketakutan. Jangan-jangan kelak mereka tak mau ber-qurban pula. Wah, gawat dong!
Nah, alih-alih bercerita menakuti-nakuti, bolehlah kita menjawab seperti ini: “Tujuan hewan diciptakan oleh Allah SWT adalah untuk membantu manusia. Bisa untuk membantu pekerjaannya, seperti sapi yang digunakan membajak sawah, kuda untuk transportasi, atau untuk hiburan atau tontonan seperti hewan-hewan di kebun binatang. Atau untuk membantu manusia dengan dimanfaatkan dagingnya untuk dimakan, seperti kambing dan sapi ini. Apalagi jika dipotong pas hari Iedul Qurban, mereka senang banget karena disetarakan dengan Nabi Ismail yang juga dulu di-qurbankan. Makanya mereka menangis terharu”.
“Tapi, kan mereka sakit kalau dipotong?”, tanya si Khansa masih penasaran.
Si ayah kemudian menjelaskan bahwa hewan-hewan itu tidak merasa kesakitan ketika disembelih secara Islam dengan merujuk pada informasi di link bawah ini. Malah cara penyembelihan secara Islam inilah yang benar dan menghasilkan daging yang bersih.     
Si Khansa pun manggut-manggut, meski masih tampak berpikir.
Esok harinya setelah prosesi qurban selesai, Ulan berkata:
“Yah, tahun depan qurbanku disini saja ya..”
“Kenapa?”, tanya ayah, “Kan lebih baik kalau disalurkan sama yang lebih membutuhkan. Kayak orang-orang di Somalia yang sedang kelaparan”.
“Sekaliii saja, Yah! Aku ingin melihat kambingku menangis haru”   

(taken from: qaulan sadiida on facebook: bercermin pada anak-anak..)
  
      

Selasa, 01 November 2011

RIDE A HORSE: MENAKLUKKAN ‘RAKSASA KETIGA’

30/10/11 – 15.09
(status ini diberi ‘like’ oleh Nita Nurendah dan Ruhnia Uni Niati, dan dikomentari oleh Nita Nurendah, Cerah Unggun Nireya, Pai Ni, Ari Aditya Ari, An Diana Moedasir, dan Muhammad Husni) 
Sedari awal Ulan sudah mengingatkan untuk tidak diminta menunggang kuda saat mengetahui akan mengunjungi perkampungan cowboy ArrowHead setelah sesi acara ‘Ibuku, Sekolahku’ di Padepokan Lebah Putih selesai. Terlihat dari wajah dan upayanya untuk terus mengingatkan agar tidak disuruh menunggang kuda, ia merasa cemas.
Tiba di ArrowHead, Ulan dan teman-temannya diajak melihat-lihat kuda di istal. Ada kuda poni, ada kuda turunan murni, ada pula kuda blasteran lokal dan luar negeri. Kuda-kudanya kokoh dan gagah. Ulan tertarik dengan kuda warna hitam yang mengingatkannya pada kuda Andalusia hitam milik Zorro, tokoh hero imajinatif yang pernah ia lihat di film.
Setelah berkeliling dan melihat orang-orang yang sedang berlatih, timbul sedikit keinginannya. Rasa ingin tahu – yang wajar pada anak – mulai mengalahkan ketakutannya.
“Separuh hatiku ingin, tapi separuh lagi masih takut-takut, Yah!”, ujarnya.

Sabtu, 29 Oktober 2011

BIJAK-NYA SANG ANAK

14/09/10
Melihat bundanya sedang sibuk membuat alat peraga dan menggambar untuk permainan Ulan dan teman-temannya, ia berceletuk:
"Didik anak itu susah ya, Bunda? Aku bisa bantu apa, Bunda?", lanjutnya.
Woalah..si anak, bijak banget ya!
------------------------------------
Bagaimana menjawab pertanyaan ini, ayah-bunda? Sulitkah mendidik anak-anak kita? Sesungguhnya tak sulit kok mendidik anak karena mereka cenderung meniru perilaku kita, orangtua atau orang terdekatnya. Bukankan Nabi pernah bersabda bahwa setiap anak lahir dalam kondisi fitrah seperti kertas putih bersih yang kosong, dan kita-lah (dan lingkungan) yang membentuk warna-warninya? Kalau kita inginkan merah, ia akan jadi merah. Kalau mau warna pelangi pun bisa.
‘Gampang’, bukan?
Yang sulit justru adalah adalah menjaga perilaku kita sehingga bisa diteladani oleh sang anak secara positif, yang susah adalah menahan obsesi agar anak mengikuti keinginan orangtua dan mengabaikan minat dan passion anak, yang rumit adalah menahan godaan untuk merasa lebih tahu tentang masa depan anak dan memaksakan kehendak terhadap anak.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tak tenggelam dimasa lampau
(kahlil gibran)
Nah, ayah-bunda, langkah pertama agar anak mudah dididik adalah membenahi perilaku kita lebih dahulu. Sehingga anak selalu mencontoh yang terbaik dari orang terdekatnya (baca juga: http://busur-panah.blogspot.com/2011/08/ayah-bunda-perbaiki-perilakumu.html)
------------------------------------
Bunda memeluk Ulan dan menjawab,”Apa selama ini anak merasa bahagia atau ketakutan dan terkekang?”
Ulan dengan cepat menjawab,”Bahagia-lah, Bunda!”
“Itu artinya selama ini Ayah dan Bunda tak merasa sulit mendidik Ulan”.

(taken from: qaulan sadiida on facebook: bercermin pada anak-anak..)

Jumat, 21 Oktober 2011

EMPATI SANG ANAK

EDISI SEPRAI
 02/05/11 – 06.36
(status ini diberi ‘Like’ oleh Estee Sugesty, Ni Made Sri Andani, dan Atik Zizack, serta dikomentari oleh Yudi Adhitiya dan Estee Sugesty)
Kamar baru Ulan membutuhkan seprai baru pula untuk alas tidurnya. Maka, bunda membongkar-bongkar inventori mencari stock seprai yang ada. Rupanya ada beberapa yang masih bagus dan layak. Setelah mengamati dengan seksama (ceilee, segitunya, he..he..), dipilihlah satu seprai buat Ulan dan satu buat mbak Suci.
"Ulan pakai seprai yang motif ini saja”, saran bunda. “Yang satu bahannya keras, nggak enak buat tidur. Nah, yang itu buat mbak Suci saja, ya?", lanjut bunda.
"Ih, Bunda. Kan nanti mbak Suci juga merasakan hal yang sama!", jawab Ulan, mantap!
 
EDISI PISANG BAKAR
16/06/11 –20.58
(status ini diberi ‘Like’ oleh Budi Utami, Nining Daryati, Elis Miliarsih, Hady Sys, dan Estee Sugesty)
Beberapa hari ini Ulan ketagihan pisang dan roti bakar. Sepulang kerja, biasanya Ulan mengajak ayah untuk beli makanan favoritnya itu. Mumpung hari ini lagi ingin makan di luar, kami pun pergi ke warung pisang bakar di depan kompleks Gria. Makan disana sambil menikmati malam yang terang. Puas makan, bersiaplah pulang. Eh, tiba-tiba Ulan nyeletuk:
“Jangan lupa pisang bakar buat mbak Suci, ya Yah! Mbak Suci kan juga keluarga kita", ujarnya mengingatkan.
Ah, sukanya bila anak sudah punya rasa empati & berbagi. Sipp! ..;)
 
EDISI FLASHING ROLLER
24/07/11 – 07.58
(status ini diberi ‘Like’ oleh Avika Anggun, Meilina Fitriawan, dan Nia Indriyani)
Si Ulan ingin punya flashing roller, sepatu beroda yang lagi ngetrend sekarang, dan si ayah sudah berjanji & berniat membelikannya. Tapi kemudian si anak menundanya sendiri untuk memiliki barang itu.
"Kapan-kapan saja, Yah, belinya. Tadi kan Ayah sudah ajak aku bersenang-senang, beliin kartu untuk main di Time Zone, makan, nonton Arthur 3. Nggak apa-apa kok! Aku bisa pinjam teman, nanti kalau sudah punya kan langsung bisa", katanya setelah menghitung uang yang sudah dikeluarkan si ayah.
Satu adegan yang mengesankan. Empati dan sikap memilih prioritas ini bisa dipelajari dengan latihan dan contoh. Begitukah ayah bunda?
------------------------------------
Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi,  dan merasakan perasaan orang lain. Empati adalah suatu ketrampilan yang biasanya tidak secara khusus diajarkan di sekolah. Awal masa prasekolah bisa menjadi masa yang sulit bagi anak-anak karena mereka memasuki dunia bermain dan bergaul dengan teman-teman sebaya mereka. Biasanya anak-anak tersebut suka merebut mainan temannya atau tidak mau berbagi.
Bagaimana membangun proses empati pada anak-anak?
1.    Mendiskusikan perasaan dengan Anak.
Mengenali emosi adalah langkah awal membangun empati. Perkenalkan konsep perasaan sejak dini kepada anak. Saat anak menunjukkan perasaan yang kuat, misalnya marah, katakan nama emosi tersebut. Hal ini akan membantunya mengenali kapan ia merasa sedih, jengkel, bahagia, bosan, dsb.
Bicarakan pula perasaan anda terhadap anak. Misalnya, jika ia marah dan memukul anda, katakan kalau anda marah dan dipukul itu menyakitkan. Biarkan dia tahu bahwa setiap orang memiliki perasaan.
2.    Contoh dari Orangtua
Orangtua adalah guru terpenting bagi anak-anaknya. Seorang anak akan belajar dan melihat bagaimana orangtua bereaksi terhadap situasi tertentu. Bila orangtua menunjukkan empati pada anak saat dia marah atau sedih, maka anak akan belajar dan mulai menunjukkan empati kepada orang lain. Bila orangtua gemar membantu orang lain, anak akan belajar untuk segera mengulurkan tangan untuk membantu orang lain.
(baca juga: http://busur-panah.blogspot.com/2011/09/mencontoh-dari-yang-terdekat.html)
 
Selamat belajar dan mengajar empati, ayah-bunda!