Selasa, 18 Desember 2012

RANKING 3..SO, WHAT NEXT?


Sebuah pesan terkirim ke Blackberry bunda Ulan. Dari guru kelas Ulan yang menginformasikan bahwa semester ini Ulan termasuk dalam ranking 3 besar paralel jenjang tiga. Alhamdulillah…bunda yang senang lalu memberitahu Ulan, yang langsung memprotes begitu ia selesai membaca SMS itu.
“Ih, Bunda, kenapa memberitahu aku? Kata ustadzah kan jangan dikasih tahu anaknya dulu. Kalau aku baru tahu pas dipanggil, kan surprise jadinya!”
Rupanya bunda tidak membaca SMS lanjutan untuk menahan diri agar tidak menginformasikan berita tersebut kepada sang anak. Mungkin saking sukanya, bunda terlupa. Wajar bila bunda senang dan bangga kalau anaknya dapat ranking, wong itu sebuah pengakuan kok. Si anak pun merasa surprise dan gembira upayanya diakui dan membuat orangtua bangga. Bahkan Ayah Ulan yang tak terlalu peduli dengan ranking kelas pun merasa lega karena pengajaran yang diyakininya, yaitu bermain = berlajar dan belajar sambil bermain, membuahkan hasil. Setidaknya secara kuantitas.

Setelah juara 3, apa selanjutnya?

Menarik untuk menyimak artikel Iwan Pranoto, Guru Besar ITB, di harian Kompas 14./12/12: Kasmaran Berilmu Pengetahuan. Beliau mengatakan:
‘…para siswa yang mempelajari mata pelajaran berdasarkan kurikulum baru harus berproses memahami mata pelajaran itu untuk mengembangkan ketrampilan yang relevan dengan jaman sekarang. Misalnya, mampu berpikir kritis dan merumuskan pertanyaan atau menyampaikan argumen secara runtut, tertata, dan meyakinkan orang lain.
Peserta didik juga perlu mengembangkan sikap-sikap universal, seperti gigih, berpikir luwes, dan menghargai hak orang lain untuk berbeda pendapat…’
Pernyataan di atas sejalan dengan hasil dari proses belajar yang oleh Munif Chatib dalam buku Orangtuanya Manusia dikategorikan dalam tiga bagian, yaitu: perubahan perilaku anak menjadi lebih baik (behaviourism/affective), perubahan pola pikir (cognitivism), dan membangun konsep atau gagasan baru (constructivism/creativism) [baca: http://busur-panah.blogspot.com/2012/10/belajar-apa-hasilnya.html].

Maka, ketika Ayah Ulan mengapresiasi prestasi tersebut dan menantang sang anak untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri menjadi lebih baik – bukan hanya sekedar angka peringkat, Ulan tak lagi kaget. Ia memang sudah tahu peringkat bukanlah tujuan utama belajar. Ia lebih ditekankan untuk menjadi seorang pembelajar [baca: http://busur-panah.blogspot.com/2012/07/ranking-kompetisi-dan-apresiasi.html]. Setelah berdiskusi ia pun setuju menjadi seorang pembelajar yang bukan sekedar mencari angka dengan kesepakatan sebagai berikut:
1.    Ulan harus mampu melerai teman-teman yang berselisih. Ini mengeksplorasi karakter Ulan yang plegmatis, tak suka konflik dan mampu menjadi penengah yang baik. 
2.  Kalau menginginkan sesuatu harus disertai dengan penjelasan kenapa barang itu diminati dan apa manfaatnya untuk meyakinkan orangtua serta apa mungkin dibuat sendiri. Ini dimaksudkan untuk mengajaknya berpikir logis, runtut, belajar beragumentasi, dan mencari alternatif.
3.    Mulai bulan Januari, Ulan akan diberi uang saku selama 1 minggu yang diberikan tiap hari Senin. Ulan mesti mengatur sendiri pengeluarannnya. Tidak ada penambahan uang saku jika uang tersebut habis sebelum hari Senin. Hal ini melatih anak untuk mandiri dan  menentukan prioritas dalam memenuhi kebutuhannya.
4.    Komitmen dan konsisten dengan apa yang sudah dipilih. Ini untuk mengingatkan sang anak agar tidak sekedar ‘ikutan teman’ dalam memilih bidang yang ia sukai.  
5.    Sesekali – jika ayah atau bunda bertanya – Ulan bercerita tentang teman-temannya. Ini bermanfaat untuk mengetahui dengan siapa saja si anak berteman sekaligus melatihnya untuk mengetahui karakter orang.
Seru kan?

“Di rumah Ayah dan Bunda kan selalu mengajak Ulan untuk selalu berani. Tidak pernah menakuti-nakuti”, ujar ayah. “Tapi, Ulan kadang-kadang masih ingin ditemani kalau tidur. Selain di rumah, waktu yang lama adalah di sekolah, maka kalau di rumah pengajarannya sudah benar, berarti ada yang salah selama di sekolah. Mungkin gurunya yang tidak sengaja menakuti-nakuti atau dari teman-teman Ulan yang mempengaruhi. Jadi, kalau belum bisa menimbulkan keberanian sendiri (baca: mandiri), tidak ada gunanya bersekolah. Bagaimana menurut Ulan?”

Ayah Ulan memberikan dua pilihan untuk mandiri dengan berani tidur di kamar sendiri atau ‘berhenti sementara’ bersekolah. Ayah Ulan tahu sang anak sangat berbahagia di sekolah, senang bertemu dengan teman-temannya, suka bercerita kepada guru. Jadi, sebenarnya sang anak hanya punya satu pilihan yang telah ia tentukan.
Si anak berpikir keras. Ia tahu apa yang dimaksud oleh ayahnya. Menimbang-nimbang, ia pun lekas berujar:

“Iya deh! Aku mau tidur sendiri. Tapi, Bunda mesti menemani aku dulu sebelum pindah ke kamar sendiri”

Sipp! Learning to be learners has being started

griajakarta besatuduaenam, 18/12/12

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Saat ambil raport, malah Qaulan ranking 2. Senangnya si anak juga agak-agak heran. "Kok, bisa aku ranking 2 ya..". Itu pertama kalinya ia diberi tahu soal ranking-nya. Itu tandanya ia tidak ngoyo2 pas saat mau ujian saja...;) Gitu kali ya..

Anonim mengatakan...

Malah si Ulan ranking 2 paralel, ternyata...