Sabtu, 17 September 2011

DON’T WORRY BE HAPPY...


29/10/10 – 11.18
(status ini diberi ‘Like’ oleh Inayaty Suryadarma dan Ruhnia Uni Niati)
"Waktu nonton On the Spot episode 7 tokoh horor, aku jadi serem, Yah! Tapi aku ingat kata-katanya guru Harry Potter", kata Ulan.
Rupanya Ulan teringat satu bagian dari film Harry Potter yang pernah ia tonton.
“Apa itu?", tanya si ayah.
“Kalau kamu merasa takut, ingat saja saat-saat engkau merasa paling bahagia", tambahnya.
Guru Harry Potter yang dirujuk oleh Ulan adalah Prof. Remus Lupin pada film Harry Potter & The Prisoner of Azkaban (2004). Sang profesor mengajarkan Harry Potter sebuah mantra untuk mempertahankan diri dari serangan Dementor, mahluk menyeramkan yang menyerap habis harapan dan kebahagiaan manusia.
"A patronus is a kind of positive force, and for the wizard who can conjure one, it works something like a shield, with the Dementor feeding on it, rather than him. In order for it to work, you need to think of a memory. Not just any memory, a very happy memory, a very powerful memory… Allow it to fill you up…lose yourself in it…then speak the incantation ‘Expecto Patronum.’"
-------------------------------

Jumat, 16 September 2011

DI-IGNORE...

 04/11/10 – 05.57
(status ini diberi ‘Like’ oleh Inayaty Suryadarma dan dikomentari oleh Ruhnia Uni Niati)
Sudah pasti orangtua takkan punya pikiran untuk mengabaikan anak. Sebaliknya, banyak yang terlalu memanjakan mereka. Bahkan ada pula yang cenderung over-protective. Namun, tanpa disadari kita tak jarang melakukan hal tersebut dengan alasan tak ada waktu, sibuk, atau lelah.
Sebuah self-introspective story. Pagi ini dengan antusias Ulan bercerita tentang kegiatan menggosok gigi di sekolah yang diadakan pada hari Rabu kemarin. Karena kerap punya ide sendiri, si ayah – yang sedang menyaksikan berita sepakbola di TV dan tak fokus pada cerita anak – pun bertanya apakah program ini dari sekolah atau inisiatif Ulan dan kawan-kawannya. Tak menjawab, Ulan malah bertanya kepada bundanya:
“Bunda paham tidak apa yang tadi aku ceritakan?”
“Maaf, ya, Nak! Bunda kan lagi bantu mbak Suci masak. Jadi, nggak perhatikan deh!”, ujar bunda.
Merasa sudah menceritakan kegiatan ini sedetail mungkin, sambil geleng-geleng kepala Ulan merespon ‘pengabaian’ ini dengan bergaya bak orang dewasa:
“Ck..ck..ck..orang tuaku tidak mengerti juga!”

Senin, 12 September 2011

ANAK SIAPA?

17/04/11 – 06.44
(status ini diberi ‘Like’ dan dikomentari oleh Kireina Bgt dan Rosita Hendriyani)

Kerap kita bercanda dengan anak dengan mengajukan suatu pertanyaan yang memintanya berpihak pada salah satu diantara ayah atau bundanya. Misalnya, bertanya tentang kemiripan anak tersebut. Meskipun jawaban si anak tak berpihak kepada kita, tetap saja kita merasa senang.
Suatu pagi kami pun bercanda dengan Ulan dan menanyakan satu pertanyaan multiple choice.
"Ulan anak bunda atau ayah?", tanya si ayah, ngetest.
"Aku itu anak Allah, Ayah!", jawab Ulan cepat.
“Kan Allah tidak punya anak”, balas ayah berargumentasi.
"Ih, Ayah!, maksudku Allah itu cuma menitipkan aku ke Ayah dan Bunda", terang Ulan bak seorang guru yang sedang serius menjelaskan. “Jadi, sebenarnya aku itu bukan milik Ayah dan Bunda”, lanjutnya.
“Nah, lho...pagi-pagi sudah dapat ceramah tentang Anakmu bukanlah Milikmu-nya Gibran*)”, gumam ayah.
Jangan meremehkan seorang anak, mungkin itu adalah nasehat yang pas buat kita, para orangtua. Anak-anak jaman sekarang menyerap informasi lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan saat kita masih anak-anak dulu. Hal itu disebabkan akses informasi yang lebih mudah diperoleh, berupa media TV, internet, koran, buku, maupun hasil ‘diskusi’ dengan teman (chatting, gosip, dll.). Anak jaman sekarang adalah anak-anak digital (baca juga: http://busur-panah.blogspot.com/2011/09/anak-kita-anak-digital.html).

ANAK KITA, ANAK DIGITAL

Bukan pemandangan yang asing bila anak-anak sekarang akrab dengan teknologi. Notebook, handphone, BlackBerry, iPad saat ini tak jarang terlihat ditenteng oleh anak-anak ABG. Kemudahan mengakses informasi melalui perangkat tersebut membuat anak makin mudah dan cepat mengetahui jawaban tentang sesuatu, mencari tahu informasi tentang aktifitas idolanya, main games online, atau sekedar chatting dengan teman, nyata atau maya. Anak-anak sekarang adalah anak-anak digital.
 
Digital Natives, Digital Immigrants

Digital natives merujuk pada generasi internet (Bayne & Ross, 2007). Mereka adalah anak-anak yang lahir di era setelah 80-an dan mengakses teknologi jejaring digital dan memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengoperasikan komputer (Palfrey & Gasser, 2008). Jika anak kita adalah digital natives, maka orangtua mereka adalah digital immigrants, yakni mereka yang telah mengadopsi dan mengunakan internet dan teknologi terkait, tetapi lahir sebelum kemunculan era digital.

Digital immigrants belajar bagaimana membuat serta menggunakan e-mail dan jejaring sosial. Namun proses tersebut berjalan ‘terlambat’ dibandingkan dengan digital natives yang yang mengenyam teknologi tersebut sejak usia SD. Mereka sangat memahami prosedur penggunaan internet, mulai dari browsing hingga memproduksi pesan di dalamnya. Mereka menjadikan aktifitas berselancar di dunia maya sebagai rutinitas yang hampir setiap saat dilakukan. Generasi ini menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya.