Jumat, 16 September 2011

DI-IGNORE...

 04/11/10 – 05.57
(status ini diberi ‘Like’ oleh Inayaty Suryadarma dan dikomentari oleh Ruhnia Uni Niati)
Sudah pasti orangtua takkan punya pikiran untuk mengabaikan anak. Sebaliknya, banyak yang terlalu memanjakan mereka. Bahkan ada pula yang cenderung over-protective. Namun, tanpa disadari kita tak jarang melakukan hal tersebut dengan alasan tak ada waktu, sibuk, atau lelah.
Sebuah self-introspective story. Pagi ini dengan antusias Ulan bercerita tentang kegiatan menggosok gigi di sekolah yang diadakan pada hari Rabu kemarin. Karena kerap punya ide sendiri, si ayah – yang sedang menyaksikan berita sepakbola di TV dan tak fokus pada cerita anak – pun bertanya apakah program ini dari sekolah atau inisiatif Ulan dan kawan-kawannya. Tak menjawab, Ulan malah bertanya kepada bundanya:
“Bunda paham tidak apa yang tadi aku ceritakan?”
“Maaf, ya, Nak! Bunda kan lagi bantu mbak Suci masak. Jadi, nggak perhatikan deh!”, ujar bunda.
Merasa sudah menceritakan kegiatan ini sedetail mungkin, sambil geleng-geleng kepala Ulan merespon ‘pengabaian’ ini dengan bergaya bak orang dewasa:
“Ck..ck..ck..orang tuaku tidak mengerti juga!”

Konon ketika hendak menciptakan manusia, Tuhan mendesain agar ciptaan yang paling agung ini memilki kepekaan lebih untuk mendengarkan ketimbang berbicara. Maka dilengkapilah dua telinga dan 1 mulut pada karya masterpiece-NYA itu. Jika mulut lebih mendominasi telinga, apalagi bila membungkam peran telinga, maka itu adalah pelanggaran fitrah. Adalah menjadi ‘dosa besar’ bila hal itu dilakukan pada anak: tidak mendengarkan (baca: mengabaikan).
Anak-anak secara fitrah memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka bereksplorasi untuk memenuhi keinginan-tahunya. Semakin sering mereka bereksplorasi, semakin banyak pertanyaan yang butuh penjelasan dan kemungkinan besar semakin sering pula mereka bercerita. Jika kita abai terhadap keinginannya untuk didengar, anak akan menganggap kita tidak menghargainya. Akibatnya mereka akan malas bicara dan mencari seseorang yang dianggap mampu mendengarkan mereka.
Seseorang itu dapat membentuk perilakunya, baik perilaku baik atau buruk tergantung pada input yang ia dengar dan terima. Tentunya, kita ingin anak-anak kita memperoleh input yang baik dan benar. Terutama dari kita, orangtuanya, bukan?
Berikut ini ada beberapa tips bijak untuk mendengarkan anak:
  • Membungkukkan badan bila perlu berjongkok sehingga lebih dekat dengan anak saat mendengarkan anak berbicara. Usahakan pandangan mata sejajar dengan anak sehingga mereka merasa setara. 
  • Mengadakan kontak mata dengan anak.
  • Tersenyum atau menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai dengan perasaan yang disampaikan anak lewat ceritanya. Hal ini membuat anak merasa aman dan nyaman karena diperhatikan.
  • Menanggapi dengan nada bicara yang ekspresif dan menunjukkan antusiasme, tidak dengan nada datar. Hal ini membuat anak merasa nyaman karena merasa orangtua mengerti dengan apa yang ingin mereka ungkapkan.
  •  Tidak memotong pembicaraan anak, meski mungkin merasa tidak sependapat dengan anak atau menganggap bahwa apa yang dibicarakan anak bukan sesuatu hal yang penting.
  • Re-statement cerita anak untuk menyamakan persepsi. Jika anak sudah selesai bercerita, coba ambil kesimpulan yang bisa kita tangkap dari ceritanya. Hal ini untuk memastikan bahwa apa yang ingin diungkapkan oleh anak lewat ceritanya tersampaikan dengan persepsi yang sama.
  • Ajarkan anak Anda cara menghargai orang lain, dengan juga menghargainya dan mendengarkannya ketika anak berbicara.
Anak yang didengar dan dihargai orangtua saat ia berbicara, kelak ia akan menjadi pendengar yang baik dan menghargai orang lain berbicara.
Yuks, ayah-bunda kita belajar menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak

(taken from: qaulan sadiida on facebook: bercermin pada anak-anak...)

Tidak ada komentar: