Senin, 12 September 2011

ANAK SIAPA?

17/04/11 – 06.44
(status ini diberi ‘Like’ dan dikomentari oleh Kireina Bgt dan Rosita Hendriyani)

Kerap kita bercanda dengan anak dengan mengajukan suatu pertanyaan yang memintanya berpihak pada salah satu diantara ayah atau bundanya. Misalnya, bertanya tentang kemiripan anak tersebut. Meskipun jawaban si anak tak berpihak kepada kita, tetap saja kita merasa senang.
Suatu pagi kami pun bercanda dengan Ulan dan menanyakan satu pertanyaan multiple choice.
"Ulan anak bunda atau ayah?", tanya si ayah, ngetest.
"Aku itu anak Allah, Ayah!", jawab Ulan cepat.
“Kan Allah tidak punya anak”, balas ayah berargumentasi.
"Ih, Ayah!, maksudku Allah itu cuma menitipkan aku ke Ayah dan Bunda", terang Ulan bak seorang guru yang sedang serius menjelaskan. “Jadi, sebenarnya aku itu bukan milik Ayah dan Bunda”, lanjutnya.
“Nah, lho...pagi-pagi sudah dapat ceramah tentang Anakmu bukanlah Milikmu-nya Gibran*)”, gumam ayah.
Jangan meremehkan seorang anak, mungkin itu adalah nasehat yang pas buat kita, para orangtua. Anak-anak jaman sekarang menyerap informasi lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan saat kita masih anak-anak dulu. Hal itu disebabkan akses informasi yang lebih mudah diperoleh, berupa media TV, internet, koran, buku, maupun hasil ‘diskusi’ dengan teman (chatting, gosip, dll.). Anak jaman sekarang adalah anak-anak digital (baca juga: http://busur-panah.blogspot.com/2011/09/anak-kita-anak-digital.html).Dengan kemudahan akses informasi tersebut, anak-anak memiliki ragam jawaban atas suatu pertanyaan yang bisa diperolehnya dengan mudah. Dan seringkali mempunyai jawaban tak terduga, seperti jawaban si Ulan yang diketahuinya dari buku yang mencantumkan sebuah puisi Kahlil Gibran.
Anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
pun tidak tenggelam dimasa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmu-lah
anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuk-liuk dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat cepat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.
Tugas orangtua adalah membimbing agar anak memperoleh jawaban yang tepat dan benar. Juga memberikan saran-saran alternatif agar anak mampu memilih dan bertanggung jawab terhadap pilihannya. Hal ini dapat dilakukan dengan melalui dialog yang setara dimana anak mampu menyampaikan pandangan kritis secara terbuka – yang bisa jadi berseberangan dengan pendapat orang tua – tanpa takut dibilang durhaka.
Keterbukaan menumbuhkan kepercayaan. Rasa percaya yang terjaga menumbuhkan rasa hormat anak terhadap kita, bukan perasaan takut. Perasaan takut hanya akan membuat sang anak menutup diri yang bisa berakibat kehilangan kontrol kita terhadapnya.
Dialog juga membuat kita – para orangtua – dapat memahami karakter anak. Coba simak petikan dialog ini.
“Ulan mirip siapa, ayah atau bunda?”, tanya bunda.
“Mirip dua-duanyalah, kan anak ayah bunda”, jawabnya tegas.
You see? Si anak tak ingin membuat ‘konflik’ dengan berpihak pada salah satu. Ia mampu melihat celah aman diantara dua pilihan. Hmm..pasti anak-anak ayah-bunda juga menyimpan hal-hal yang luar biasa.  
Try to find out deh!..;)
 
(taken from: qaulan on facebook: bercermin pada anak-anak..)

Tidak ada komentar: