Sabtu, 24 September 2011

I’M SORRY....


23/06/11 – 16.28
(status ini diberi ‘Like’ oleh Eliana Joe, Meilina Fitriawan, Erita Maysra, dan Eni Purwaningsih, serta dikomentari oleh Estee Sugesty)
Tak menunaikan sholat Ashar hari sebelumnya, Ulan dihukum tidak boleh bermain. Konsekuensi ini telah disepakati dan tertuang dalam perjanjian bersama. Meskipun saat itu ada kesempatan bermain dan tidak ada yang mengawasi, Ulan tetap menjalankan hukuman itu.
"Aku tiduran saja di kamar sambil baca buku, Yah!", ujarnya.
-----------------------------
Adalah penting memaafkan kesalahan seorang anak, namun penting pula memberi kesadaran pada mereka bahwa apa yang telah mereka lakukan keliru dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kesadaran itu bisa dalam bentuk hukuman atau konsekuensi. Tentu saja hukuman tersebut tetap harus memberi ruang bagi anak untuk membela diri dan menyampaikan alasannya.
Bersama Ulan kami berdiskusi membuat kesepakatan tentang apa saja yang perlu diatur. Kami menuliskan perjanjian tersebut dalam buku catatan khusus dan ditandangani oleh ayah, bunda, dan Ulan. Terkadang mbak Suci – pengasuh Ulan – pun turut serta terlibat. Jadi, si anak sudah mengetahui dan menyadari semua komitmen yang harus dilakukan dan konsekuensi jika kesepakatan tersebut dilanggar. Dengan mengetahui dan sepakat dengan konsekuensi pelanggaran, anak akan belajar bertanggung jawab terhadap setiap tindakannya sehingga anak tak kaget menerima hukuman dan insyaAllah takkan mengulang kesalahan yang sama (baca juga: http://busur-panah.blogspot.com/2011/09/say-no-to-sorry.html).
Sebuah kisah menarik dan inspiratif dari seorang ulama. Sang ulama dalam mendidik anak-anaknya juga membuat kesepakatan serupa. Salah satunya adalah saat waktu Maghrib anak-anaknya harus sudah berada di rumah, kecuali bila ada aktifitas lain yang telah teragendakan.
Suatu hari seorang anaknya terlambat tiba di rumah. Ia keasyikan bermain sampai jauh di luar rumah. Setelah mandi dan sholat Maghrib, sang ayah memanggil anak tersebut dan menanyakan alasan kenapa ia terlambat serta mengingatkan sanksi yang telah disepakati. Beliau meminta maaf dan mengatakan tidak ingin memberi sanksi namun tetap harus dilakukan sesuai kesepakatan. Si anak mengatakan ia menyesal dan meminta ayahnya memberi sanksi. Lalu mereka berdua pun menangis berpelukan. Si anak menjalani hukuman dengan penuh kesadaran. Sejak saat itu kesalahan yang sama tak terulang.
Moment mengharukan seperti itu pasti akan mengingatkan si anak untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Berikut ini point-point tentang meminta maaf dan konsekuensi yang efektif dari berbagai sumber:
1.     Meminta maaf harus disertai dengan kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan
2.  Memastikan si anak telah mengetahui konsekuensi jika ada aturan yang dilanggar. Konsekuensi tersebut mesti memberikan dampak positif padanya.
3. Menjalankan konsekuensi atau sanksi segera, tidak menunda-nunda sehingga memberi kesan tidak konsisten dan tidak serius.
4.  Tidak mengungkit-ungkit kesalahan dan memberikan apresiasi jika anak melakukan perbuatan baik. Hindari sosok orangtua sebagai ‘penghukum’ yang menyeramkan.
5.    Menjadikan orangtua sebagai role model utama bagi anak dengan berjiwa besar untuk meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, terutama kepada anak-anak.
6.     ...dan lain-lain (silakan dieksplorasi sendiri, he..he..)
Selamat berinteraksi dengan anak-anak, ayah bunda!
 
(taken from: qaulan sadiida on facebook: bercermin pada anak-anak...)

Tidak ada komentar: