Sabtu, 24 September 2011

BELAJAR DARI LINGKARAN SETAN


oleh : Lukmanul Hakim
Jika ada pandangan bahwa faktor keturunan mutlak mempengaruhi perilaku anak, bolehlah melihat film Lingkaran Setan (1972). Film jadul ini disutradarai oleh Misbach Jusa Biran dan dibintangi oleh Sukarno M. Noor (Tohir), Farouk Afero (Husin besar alias si Boy), dan Rano Karno (sebagai Husin kecil)
Cerita diawali saat seorang jaksa mendakwa Tohir melakukan sebuah tindakan kejahatan pencurian. Tohir melakukannya karena terdesak oleh kebutuhan hidup, terutama untuk kebutuhan istrinya yang sedang hamil tua.
Oleh pengadilan Tohir dijatuhi hukuman berat berupa pembuangan dan kerja paksa. Hukuman itu dijatuhkan karena jaksa Hasan (Aedy Moward) lebih menekankan pada faktor keturunan daripada latar belakang tindakan kejahatan itu terjadi. Ketika dalam pembelaan terakhirnya, Tohir menanyakan nasib istri dan anak di kandungan selama ia dalam pembuangan, sang jaksa hanya menjawab:
“Anak seorang penjahat, pastilah jadi penjahat pula! Biarin saja, mati juga tidak apa-apa. Jadi berkurang satu kejahatan”
Kata-kata tersebut sangat membekas di hati Tohir. Ketika di pembuangan Tohir mendengar berita anak dan istrinya meninggal, ia melarikan diri. Langsung menuju ke rumah sang jaksa, dan menculik anak Hasan yang masih bayi. Sang bayi – yang diberi nama Husin – pun ia besarkan seperti anaknya sendiri. Ia mengajari keahlian mencopet, menipu, dan tindakan kriminal lainnya dan membungkus kejahatan itu dengan topeng kemuliaan. Sang anak pun menjadi notorius-godfather yang disegani.
Suatu hari Tohir mendengar bahwa Hasan – jaksa yang pernah mendakwanya dan telah pensiun – mendapat anugerah dari negara karena jasa-jasanya. Amarah Tohir pun membara dan berencana menggunakan Husin, ‘anaknya’ dan anak kandung Hasan, untuk membalaskan dendam. Ia menghasut Husin untuk merampok rumah Hasan. Namun, diam-diam Tohir juga menghubungi polisi tentang rencana perampokan tersebut. Tentu saja perampokan itu gagal, dan Husin diajukan ke pegadilan.
Pada sidang pengadilan yang menghadirkan Husin sebagai terdakwa dan Hasan sebagai saksi, Tohir sebagai pengunjung berteriak membuka kedok siapa sebenarnya sang terdakwa itu.
“Hai Hasan, kamu mungkin sudah lupa ketika menuduh seorang tua dan mengatakan keturunan penjahat pastilah berlaku jahat pula. Ketahuilah, Husin yang sedang duduk di kursi terdakwa adalah dari keluarga baik-baik. Itu jika engkau merasa dari keluarga baik dan terhormat. Ya, Husin itu adalah anak kandungmu sendiri yang aku culik saat masih bayi. Hari ini aku membuktikan sebaliknya. Keturunan orang baik-baik bisa jadi berperilaku buruk jika lingkungan mengajarinya demikian. Camkan itu, pak Jaksa”.
----------------
Film ini sangat membekas di memori saat pertama kali menonton di TV, padahal saat itu masih kanak-kanak. Bahkan masih bayi ketika film ini direlease...;).
Lingkungan sangat mendominasi perkembangan dan perilaku anak. Lingkungan yang pertama dan utama tentu saja adalah lingkungan keluarga. Dalam lingkungan ini kepribadian anak terbentuk sehingga perlu mengenalkan dan mengajarkan konsep diri dan nilai-nilai baik dan buruk. 
Selanjutnya adalah lingkungan sekunder di luar rumah atau lingkungan pergaulan anak, bisa lingkungan teman atau sekolah. Jika sudah dikenalkan dengan konsep diri dan nilai-nilai baik dan buruk, insyaAllah anak memiliki filter ketika berinteraksi sosial di luar rumah. Yang terpenting adalah selalu mendengarkan anak dan memberikan motivasi kepada kebaikan. Seseorang yang memiliki motif pada kebaikan akan mudah terstimulasi untuk melakukan perbuatan baik jika lingkungan dimana dia hidup memberikan situasi yang kondusif untuk melakukannya. Selanjutnya motif baik yang menguat mudah menggerakkannya untuk melakukan kebaikan.
Bagaimana dengan kita, ayah bunda? Apakah kita telah memberikan lingkungan yang kondusif kepada anak-anak kita?

Tidak ada komentar: