Selasa, 20 September 2011

SAY NO TO ‘SORRY’...

oleh: Lukmanul Hakim

Ada sebuah film lawas bergenre laga yang berjudul The Bodyguard from Beijing (1994). Film yang kerap diputar berulang-ulang di TV ini berkisah tentang opsir Allan Hui (Jet Li) yang ditugaskan untuk melindungi Christy (Michelle Yeung), seorang saksi kunci kejahatan yang dilakukan seorang bos mafia.
Film ini jadi salah satu favorit saya –  selain asyik melihat ketrampilan wushu Jet Li dan Michelle Yeung yang menawan – ada satu adegan menarik yang selalu teringat, yaitu ketika adik Christie melakukan kesalahan, lalu meminta maaf. Lalu melakukan kesalahan, dan minta maaf lagi...minta maaf lagi. Meminta maaf begitu mudah diucapkan, bahkan pada kesalahan yang sama.
Menyadari bahwa hal itu tak baik bagi perkembangan si anak kelak, Allan Hui pun menceritakan sebuah kisah. Diceritakan ada seorang anak yang belajar ilmu bela diri di biara Shaolin. Anak ini begitu lucu dan menggemaskan sehingga disayang oleh para bhiksu dan guru. Teramat sayang, mereka selalu mengganggap remeh kenakalan anak dan selalu memaafkan. Setiap menyadari telah melakukan kesalahan, si anak meminta maaf dan selalu dimaafkan tanpa ada konsekuensi dari perbuatannya.
Suatu hari si anak bermain pelita di perpustakaan biara. Karena ceroboh, pelita itu pun terjatuh dan membakar kertas dan buku yang ada di dalamnya. Api pun dengan cepat berkobar membakar gedung-gedung di sisinya. Kepala bhiksu – yang amat menyayangi anak itu – yang sedang berdoa di dalam gedung tidak sempat menyelamatkan diri dan tewas terbakar. Si anak amat menyesali perbuatannya yang ceroboh itu dan bersumpah untuk tak pernah lagi meminta maaf.    
“Sejak saat itu aku tak akan lagi meminta maaf”, ujar Allan Hui.
Yap! Anak itu adalah Allan Hui, seorang opsir yang dipercaya untuk melindungi saksi kunci. Pekerjaannya menuntut untuk tidak boleh melakukan kesalahan. Ia bertekad untuk tidak meminta maaf bukan berarti tak rendah hati, tapi agar ia tidak melakukan kesalahan konyol, seperti yang dilakukannya di waktu kecil.
 --------------------------
Memaafkan dan meminta maaf adalah perbuatan yang mulia. Memaafkan membutuhkan jiwa besar, meminta maaf memerlukan kerendah-hatian. Keduanya harus bersinergi agar kesalahan tak terulang sehingga tak perlu lagi meminta maaf terhadap kesalahan yang sama. Semakin sedikit meminta maaf, tentu semakin berkurang kesalahan.
Adalah penting mengajarkan kepada anak tentang meminta maaf dan memaafkan. Perlu juga mengajarkan tentang konsekuensi dari setiap tindakan. Tanpa ada konsekuensi, anak akan mengira bahwa apa yang semua dilakukannya berkenan dan benar, meskipun hal itu salah dan menjengkelkan orang lain.
Anak-anak bisa dilatih dengan mengajaknya berdiskusi tentang tugas yang harus ia kerjakan, misalnya sholat 5 waktu atau ibadah lainnya, dan konsekuensi logis jika terjadi pelanggaran. Dengan mengetahui tugas dan konsekuensi anak akan belajar bertanggung jawab, berhati-hati dalam berucap dan bertindak, sekaligus berusaha untuk tidak mengulangi pelanggarannya.
Tentu saja ayah-bunda jangan lupa memberi apresiasi jika anak telah berproses melakukan tugasnya dengan baik. Bagaimana ayah-bunda?

Mohon maaf bila kurang mengena, ehem!

Tidak ada komentar: