Sabtu, 14 Desember 2013

"AKU INGIN IBUKU MEMANGGILKU..."

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika. 

“Apa yang kamu inginkan ?”, Dika hanya menggeleng. 
“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?”, tanya saya.
“Biasa-biasa saja”, jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kami pun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata - rata anak saya mencapai 147 (sangat cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian, dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (rata-rata cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. 
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku...”. Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadual kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. 

Ketika psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku…”. Dika menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”.

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak…” Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”. 

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai fotocopy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak...”. Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”. 

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang...”. Dikapun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang...”, Dika menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari...”, Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”.

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari...”, Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”. Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku...”, Dikapun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”. 

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”, kependekan dari kata “Kontole” yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku...", Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”. Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok.  "Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami
saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang
jengkel, ternyata ada banyak pesan yang tak terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLAH.
Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional, saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLAH.


(ditulis oleh : Lesminingtyas)

Minggu, 27 Januari 2013

JAM #3: DI SELA-SELA TUGAS


Di tengah-tengah kesibukan beraktifitas, seringkah ayah-bunda teringat dengan buah hati di rumah? Tugas yang membuat kita terpaut jarak dengan anak-anak bukan lagi sebuah alasan untuk ketiadaberadaan peran orangtua. Alasan pembenaran bahwa bekerja tak kenal waktu sehingga tak ada waktu luang dengan anak justru untuk memenuhi kebutuhan anak itu sendiri sudah tak lagi relevan. Apalagi jaman sekarang teknologi memungkinkan jarak makin menyempit. Telepon adalah salah satu sarananya.
Berusaha menelepon anak setiap hari selain memastikan orangtua selalu available terrhadapnya, juga membuat anak terperhatikan. Tentu saja, kita menelepon pada jam-jam dimana anak sudah beristirahat dan tidak lelah. Pun tidak terus-terusan menelepon dan menanyakan hal-hal detail yang ia lakukan hari itu sehingga seolah-olah ia merasa diawasi. Tujuan untuk dekat dengan anak malah tak tercapai kalau kita berlaku seperti seorang ‘penguntit’. Saat menelepon Ulan, biasanya bunda menanyakan mood-nya hari itu, menyenangkan atau tidak. Biasanya si Ulan menjawabnya: “Menyenangkan, Bund! Hmm…itu sudah cukup untuk mengetahui perasaannya hari itu.
Selalu menyempatkan waktu untuk menelepon anak dari tempat kerja, menanyakan aktifitasnya hari itu, dan memastikan dia berbahagia adalah caraku untuk menjalin kedekatan dengannya.
Bagaimana denganmu?

Sabtu, 12 Januari 2013

JAM #2: KETIKA HARUS 'BERPISAH'...


Mungkin hal yang paling berat, terutama bagi orangtua yang bekerja, adalah saat berpisah dengan buah hati untuk pergi ke kantor. Apalagi bila si buah hati masih bayi, hiks..hiks..hiks.. Mencium dan memeluknya mampu menenangkan keduanya, orangtua dan buah hati. Peluk cium adalah sinyal kebahagiaan. Skin to skin contact antara orang tua dan anak seperti peluk cium akan membuat anak merasa aman dan nyaman. Anak secara langsung merasakan kehadirannya diharapkan, disayangi, sekaligus diperhatikan oleh kedua orangtuanya.
Ada sebuah kisah menarik. Suatu hari seorang Badui tercengang melihat Rasulullah mencium salah seorang anaknya. Ia pun berujar,”Wahai Rasulullah, saya mempunyai 10 anak, dan belum seorangpun dari mereka pernah aku cium”
Rasulullah bersabda,”Aku kuatir Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barangsiapa yang tidak memberi kasih sayang, ia tidak berhak memperoleh kasih sayang”.
Selain peluk cium, ‘kata-kata perpisahan’ yang dianjurkan diucapkan ketika hendak meninggalkan sang anak di rumah atau setelah mengantarkannya ke sekolah adalah selamat berbahagia dan bersenang-senang. Setidaknya ada dua keuntungan:
  1. sebagai motivasi agar anak selalu riang dan bahagia. Jika senang dan bahagia, pelajaran akan mudah diterima
  2. sebagai motivasi diri sendiri untuk selalu berpikir positif sehingga hati selalu riang. Bukankah ucapan motivasi yang positif akan lebih berdampak bila yang mengucapkannya juga termotivasi lebih dahulu? 
Memeluk dan mencium anak (dan mengucapkan selamat berbahagia dan bersenang-senang) sebelum berangkat bekerja adalah salah satu caraku untuk akrab dengannya.
Bagaimana dengan kamu?

Rabu, 09 Januari 2013

RACE TO NOWHERE


RHENALD KASALI
Ketua Program MM Universitas Indonesia

Kita semua pernah bersekolah, demikian pula anak-anak kita. Di antara anak-anak itu tentu saja ada yang berotak encer dan tak banyak menemui masalah.
Namun harus diakui, semakin hari sekolah semakin menakutkan bila ujian tiba. Bukan hanya murid yang stress, guru dan orang tua pun gelisah. Bahkan setan hitam pun ikut gelisah. Jumlah siswa yang kerasukan di sekolah-sekolah semakin hari semakin besar sekali di sini. Dan anehnya selalu terjadi menjelang ujian. Mungkinkah semua persoalan itu terletak pada sistem pendidikan yang disebut Vicki Abeles sebagai sebuah race to nowhere? Ya, seperti perlombaan besar yang muaranya ”ya, nggak jadi apa-apa juga”.
Hidup kita jadi terbalik-balik. Yang sekolahnya dilalui dengan penuh kesungguhan bisa tak jadi apa-apa, sedangkan yang sekolahnya main-main malah bisa menjadi pejabat, politisi terkenal, atau bahkan pengusaha besar. Sulit kita melawan buku-buku populis yang mengajarkan cara-cara jalan pintas, cara goblok-nya Bob Sadino berwirausaha atau bahkan keluguan seorang motivator yang menyebutnya dengan judul besar di cover depan buku karangannya: The Power of Malas. Sungguh, ini sangat sulit! Mengapa sulit? Tentu bukan karena sekolah tidak penting, melainkan ada yang salah.

Perbaiki Sekolah
Vicki Abeles gelisah. Sebagai ibu rumah tangga ia tak habis pikir mengapa putrinya yang berusia 12 tahun sakit secara fisik hanya karena sekolah. Selama 3 tahun ia mencari jawabannya dengan mewawancarai anak-anak sekolah dan mahasiswa. Kumpulan wawancara itulah yang dijadikan Vicki sebagai film dokumenter yang diluncurkan tahun lalu. Di Amerika Serikat sendiri film dokumenter itu memicu perpecahan.
Namun Vicki berhasil mencuri perhatian sehingga para politikus dan pendidik mau memperbaiki persekolahan. Di banyak sekolah, metode pengajaran dibongkar. Sekolah-sekolah yang terlalu mengedepankan hafalan mulai merombak diri dengan memberikan lebih banyak ruang bagi siswa untuk berpikir. Mata ajar biologi, fisika, dan kimia yang dianggap momok diubah menjadi mata ajar lab yang lebih fun. Anak didik dibuat belajar seperti seorang scientist berpikir, bukan menghafal. Namun di sekolah lain, guru-guru justru merasa sebaliknya: murid masih terlalu sedikit menghafal.
Di sekolah sekolah itu kegelisahan terjadi karena guru menolak cara lain selain hafalan. Di Indonesia, selain kerasukan setan menjelang ujian, keributan juga terjadi saat seorang siswa SMA 6 Bulungan Jakarta tewas terbunuh. Tawuran antar sekolah, bullying, aksi corat-coret sampai mencontek menjadi masalah sehari-hari. Anak-anak yang gelisah tak belajar dengan baik. Anak-anak kita paksa mempersiapkan masa depan lebih dari kemampuan mereka. Orang tua yang berambisi mengirim anak-anak ikut les di sana-sini bahkan memengaruhi guru agar anaknya tidak mengalami kesulitan di sekolah.
Di Amerika Serikat orang tua murid yang telah ”bertobat” dalam membimbing anak-anak dengan cara pabrikasi berbicara lantang: ”Saya khawatir kelak anak-anak akan memperadilankan kita, orang tua, karena telah mengambil masa kanak-kanak mereka”. Maka, ketika pemerintah di sini berencana mengurangi beban pelajaran siswa sekolah, ada rasa syukur di hati saya. Namun kalau pengurangan semata- mata dilakukan hanya untuk mengurangi jumlah subjeknya saja, bisa jadi kita akan bermuara ke nowhere juga.
Apalagi kita mengabaikan prinsip-prinsip pembentukan masa depan anak dengan mempertahankan subjek-subjek yang hanya akan disampaikan secara kognitif belaka. Pengalaman saya sebagai pendidik menemukan, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar di masyarakat dan kegagalan terbesar justru terjadi pada anak-anak yang dibesarkan dalam persekolahan menghafal. Padahal, memorizing is not a good thinking. Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik.

Latih Berpikir
Maka, mata ajar yang terlalu bersifat menghafal perlu kita renungkan kembali. Guru-guru harus dilatih ulang. Sebab mereka sendiri telah dibentuk oleh sistem pendidikan menghafal yang sangat merisaukan. Guru dan murid harus berubah, dari menghafal menjadi berpikir. Melatih manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan dalam sistem pendidikan nasional. Berpikir yang baik akan menghasilkan karya-karya besar meski berisiko tersesat. Tapi bukankah hanya orang tersesat saja yang berpikir?
Hanya orang-orang berpikirlah yang tidak mudah tertipu yang tidak menjadi manusia sempit yang picik, yang tidak memikirkan diri atau kelompok sendiri, dan tentu saja orang yang berpikir akan menjadimanusia kreatif. Jadi, bukan hanya mata ajaran yang harus diperbaiki, teknik mengajar dan isi mata ajaran pun perlu disempurnakan. Jadi saya kira pendidikan memang perlu disempurnakan, diperbaiki,termasuk cara berpikir guru dan orang tuanya..