Selasa, 02 Agustus 2011

MENGASAH KECERDASAN LEWAT PERMAINAN

Kecerdasan tidak selalu identik dengan faktor genetik atau keturunan. Kecerdasan bisa didapat dari berbagai hal. Mulai nutrisi (asupan gizi) yang sehat, bimbingan orang tua yang baik, juga berbagai macam permainan untuk anak.

Menjadi salah satu kebanggaan bagi orangtua apabila memiliki anak yang cerdas. Bagi yang tidak mendapatkannya, mereka sering kali menyerah. Apalagi bila para orangtua merasa kecerdasan mereka biasa-biasa saja. Mereka berpikir bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang diturunkan secara genetik.

Mulai sekarang, ubah paradigma dan pemikiran Anda. Kecerdasan bisa dibentuk sejak anak masih bayi. Dari hal yang paling sederhana, bermain misalnya. Kecerdasan apa yang dapat dikembangkan dengan permainan-permainan? Howard Gardner (1983), meyakini bahwa ada setidaknya tujuh kecerdasan yang dimiliki setiap manusia. Semua itu bisa diasah melalui permainan.

BIARKAN ANAK BERMAIN DENGAN BEBAS


Ajarkan anak-anak untuk bermain. Mendengar anjuran ini, mungkin Anda segera mengerutkan alis. Bukannya anak-anak memang gemar bermain? Memang, tapi dengan semakin modernnya dunia ini, anak-anak lebih cenderung memilih permainan yang sifatnya lebih terstruktur. Misalnya, bermain video games, bermain kasti dengan teman-teman di sekolah, atau kursus balet bersama anak-anak sebaya. Menurut Darell Hammond, penulis buku best-seller berjudul KaBOOM!: How One Man Built a Movement to Save Play, tipe permainan seperti ini sebenarnya kurang alami untuk anak-anak.

“Jenis permainan yang baik bagi anak adalah semua jenis permainan,” tutur Hammond, yang juga pendiri KaBOOM!, sebuah organisasi nirlaba yang membantu membangun tempat bermain di berbagai komunitas di Amerika Serikat. “Yang kita lihat sekarang ini, anak-anak terlalu banyak menjalani aktivitas yang sangat terstruktur dan mendorongnya untuk bermain dalam tim. Padahal, mereka juga butuh permainan yang bebas dan kreatif,” imbuhnya lagi. Hammond selalu menekankan pentingnya bermain bagi anak dan mengapa para orangtua perlu lebih sering membiarkan mereka berkreasi mengubah boks sepatu menjadi mobil-mobilan, alih-alih membelikannya mobil-mobilan yang bagus. Menurutnya, permainan seperti ini akan membuat otak anak lebih kreatif bekerja. Saat dewasa nanti, kreativitas ini akan melekat dalam benak mereka pada saat menghadapi berbagai tantangan hidup dan juga pekerjaan.

Minggu, 31 Juli 2011

MEREMEHKAN ANAK, KESALAHAN YANG BIASA DILAKUKAN

oleh: lhakim
Rafi, 5 tahun, diminta menggambar seekor binatang. Iapun menggambar seekor burung yang sedang bertengger. Lantas seluruh kertasnya, latar belakang dan burungnya, diberi warna hitam sebagai dasar. Alhasil, gambar burungnya malah tak terlihat. Ibunya melihat gambar tersebut, mengernyitkan kening, dan berkomentar: 
“Kok, burung warnanya hitam? Burung apa itu?”. Lalu, dilanjutkan serentetan panjang kritik dan koreksi dari sang ibu yang meremehkannya.

Sabtu, 30 Juli 2011

KEKUATAN & KELEMAHAN

Alkisah, di sebuah kota kecil di Jepang, terdapat seorang anak yg lengan kirinya buntung, tetapi ia sangat menyukai beladiri judo, dan sudah mengikuti latihan di sebuah dojo. Selama berlatih, sang guru hanya mengajarkan satu jurus saja. Walaupun jurus itu termasuk sukar untuk dikuasai, anak ini merasa tak puas karena ia melihat murid-murid lainnya mempelajari bermacam-macam teknik. 


Akhirnya setelah 6 bulan, ia tak kuasa lagi menahan kesabarannya. Lantas ia menemui sang guru:  “Sensei, bolehkah aku bertanya? Mengapa selama 6 bulan ini aku hanya berlatih jurus ini saja”.  


Gurunya hanya menjawab singkat, “Karena engkau murid yang istimewa dan hanya jurus ini yang engkau perlukan”. 


Ia tak berani lagi bertanya dan memilih untuk berlatih dengan tekun. Semakin lama jurus itu semakin dikuasainya dan mendarah daging dalam dirinya. Tak ada seorangpun yang semahir dia dalam menggunakan jurus tersebut. Setahun kemudian, sang guru menyertakan dirinya dalam kejuaran nasional di ibukota. Walaupun merasa pesimis  dan minder, ia menuruti permintaan sang guru. Mereka pun berangkat ke ibukota. Kejuaraan dimulai. 


Diluar dugaannya, dengan mudah ia bisa menjatuhkan dan mengunci lawan-lawannya. Babak demi babak ia lalui, sampai akhirnya ia harus menghadapi juara tahun lalu di babak final. Walau memakan waktu cukup lama dan menguras tenaga, lagi-lagi ia berhasil memenangkan pertandingan. Dalam perjalanan pulang, sembari membahas dan mengevaluasi pertarungannya, sang anak bertanya kembali: “Sensei, saya heran, mengapa hanya bermodal satu jurus ini saja saya bisa memenangi pertandingan. Saya masih belum mengerti ucapan Sensei dulu. Apa istimewanya saya dan mengapa hanya satu jurus ini?” 


Sang Sensei tersenyum dan berkata, “Muridku, cara bertarung setiap orang adalah unik, tergantung dari kekuatan dan kelemahannya. Praktisi beladiri perlu mempelajari berbagai teknik dan jurus sampai akhirnya ia menemukan kekuatan serta kelemahannya. Sampai akhirnya memilih teknik dan jurus yang sesuai, yaitu teknik-teknik yang memanfaatkan kekuatannya dan menutupi kekurangan. Atau bahkan mengubah kelemahannya sebagai kekuatan. Engkau istimewa, karena kekuranganmu sudah jelas. Sehingga tak perlu menghabiskan waktu mempelajari berbagai jurus dan teknik yang sudah pasti tidak engkau perlukan. Dan jurus itu paling cocok bagimu, karena selain jurus tersebut salah satu jurus tersulit dalam judo, satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan mengunci lengan kirimu”. 


Kadang orang mengira bahwa kekurangannya merupakan hukuman, kutukan dan menyesalinya. Padahal, di dunia ini banyak sekali terdapat kemungkinan dan tak mungkin semuanya diraih. Orang-orang yang memahami kekurangannya seharusnya bisa menyadari hal-hal yang mustahil ia lakukan dan tak membuang waktu percuma untuk mengejarnya. Dan orang-orang yang juara adalah orang-orang yang menggunakan semaksimal mungkin  kekuatannya dan juga berhasil menggunakan kelemahannya juga sebagai kekuatan.


Cerita di atas menginspirasikan tentang keistmewaan dalam kekurangan. Bagaimana dengan anak-anak kita, ayah-bunda? Tiap-tiap anak memiliki keunikannya sendiri. Bisa jadi keunikan itu adalah kelemahan dalam persepsi kita. Seperti sensei di atas, kita mesti jeli melihat dan mengoptimalkan ‘kekurangan’ itu menjadi sebuah kekuatan. Belajar dengan cara menyenangkan adalah salah satu cara mengetahui dan mengotimalkan keunikan itu. 

Selamat mencoba...