Minggu, 31 Juli 2011

MEREMEHKAN ANAK, KESALAHAN YANG BIASA DILAKUKAN

oleh: lhakim
Rafi, 5 tahun, diminta menggambar seekor binatang. Iapun menggambar seekor burung yang sedang bertengger. Lantas seluruh kertasnya, latar belakang dan burungnya, diberi warna hitam sebagai dasar. Alhasil, gambar burungnya malah tak terlihat. Ibunya melihat gambar tersebut, mengernyitkan kening, dan berkomentar: 
“Kok, burung warnanya hitam? Burung apa itu?”. Lalu, dilanjutkan serentetan panjang kritik dan koreksi dari sang ibu yang meremehkannya.
Bagaimana kira-kira perasaan sang anak jika mendengar komentar meremehkan tersebut terhadap karyanya? Makin terpicu berkarya atau makin buntu? Umumnya anak-anak akan mandeg berkreatifitas - yang mungkin merupakan passion-nya kelak - saat diremehkan dan dikritik berlebihan. Bagaimana keadaannya jika ibu Jodie Foster merasa terganggu dengan coretan putrinya yang selalu minta pendapat dari sang ibu dan menganggap karyanya setara dengan Picasso? Kemungkinan besar dunia tak akan mengenal aktris berbakat pemenang beberapa piala Oscar.
Tanpa sadar, kita sebagai orang tua menganggap atau bahkan memaksakan anak memiliki persepsi, pandangan, dan kemampuan yang sama dengan kita. Kita memaksakan anak memandang dunia persis dengan apa yang kita rasakan dan alami. Akibatnya, kita memandang karyanya dengan persepsi orang dewasa. Alih-alih memberi support, kita cenderung meremehkan dan tidak menghargai kemampuannya. 
Kalau saja misalnya, kita hentikan aktifitas sejenak dan mencoba mendengarkan 'argumentasi' sang anak, menanggapinya dengan antusias, bisa jadi kita temukan penjelasan yang menakjubkan dari pikiran kecilnya.

Si Rafi menjelaskan bahwa dia menggambar burung di waktu malam gulita. Karena malam itu gelap dan tidak berlampu, jadi si burung tak kelihatan. Argumentasi yang masuk akal bukan?
 
... berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri...(kahlil gibran)

Tidak ada komentar: