Selasa, 31 Januari 2012

11 PANDUAN DASAR MEMBESARKAN ANAK ALA NANNY STELLA (NANNY 911)


KOMPAS.com – Penonton setia acara Nanny 911 pasti tak asing dengan nama Nanny Stella. Acara ini memiliki banyak penonton karena para nanny yang terlibat harus membantu keluarga tersebut mencapai kerja sama dan mengubah kekacauan menjadi ketenangan hanya dalam waktu 7 hari. Beberapa waktu lalu, Nanny Stella mengunjungi Jakarta untuk berbagi 11 aturan dasar (11 Commandments) dalam membesarkan anak. Aturan-aturan ini ia buat bersama salah seorang sahabatnya, Nanny Deb, yang juga ikut dalam acara tersebut. Pengalamannya selama kurang lebih 15 tahun dalam mengasuh anak, ditambah pendidikannya selama 2 tahun di National Nursery Education Board membuatnya percaya diri untuk menerbitkan 11 aturan dasar ini. Menurutnya, aturan dasar ini lintas usia, lintas negara, tidak situasional, tidak emosional, absolut, dan dibuat untuk menghindari tindakan-tindakan buruk yang bisa saja terjadi di masa mendatang.

 Berikut adalah 11 aturan tersebut:

1.        Bersikap konsisten
Tidak artinya tidak. Ya, artinya ya. Jika Anda ingin memberlakukan “timeout” kepada anak Anda, lakukanlah. Jangan berhenti atau membatalkan hal tersebut hanya karena ada gangguan.

2.       Setiap tindakan punya konsekuensi
Tingkah laku yang baik mendapat imbalan. Tingkah laku buruk mendapat hukuman. Berikan penjelasan jika memang ada imbalan untuk sesuatu yang baik yang ia lakukan, atau hukuman jika ia melakukan kesalahan. Misal, Anda sekeluarga akan berlibur ke tempat liburan yang menyenangkan jika anak bisa meraih angka bagus di rapor. Atau, jika malas belajar, ia akan tinggal kelas.

3.       Katakan seperti apa yang Anda inginkan
Berpikirlah sebelum bicara, atau rasakan akibatnya. Jika si anak pernah melanggar perintah Anda, maka hukumannya pun harus jelas, dan Anda harus melakukan hukuman tersebut. Jika Anda melanggar sistem ganjaran Anda sendiri, maka si anak akan terbiasa mengabaikan hukuman yang Anda tetapkan untuk hal-hal lain. Bersiaplah, karena hal ini akan berujung pada pembangkangan.

4.      Orangtua bekerja sama sebagai satu tim
Kalau Anda dan pasangan tidak saling setuju dalam satu hal, anak Anda tidak akan tahu siapa yang harus ia dengarkan. Hasilnya, ia tak akan mendengarkan siapa pun. Ini tak hanya berlaku untuk Anda dan pasangan saja, tetapi juga untuk semua orang yang berada di tempat Anda membesarkan si anak. Entah itu pengasuh, ibu-ayah, kakek-nenek, paman-bibi, semua yang terlibat dengan si anak. Jangan sampai ada yang memiliki kata-kata yang saling bertolak belakang, karena anak bisa bingung dan malah berakibat buruk baginya.

5.   Jangan berjanji jika tak bisa ditepati
Kalau Anda menjanjikan sesuatu kepada si anak, pastikan janji tersebut terpenuhi. Jika Anda tak pasti bisa memberikan janji tersebut kepada anak, lebih baik jangan dikatakan. Karena ingkar janji bisa jadi hal yang sangat menyakitkan untuk anak.

6.      Dengarkan anak-anak Anda
Akui perasaan mereka. Katakan, “Ibu mengerti”, tapi ucapkan dengan sungguh-sungguh, lalu luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan Anda. Karena mereka butuh orang yang bisa dan mau mendengarkan keluh-kesah mereka. Jika mereka bersandar kepada orang yang salah, hasilnya bisa menjadi hal yang tak benar untuknya. Cobalah untuk menjadi sahabat mereka dan dengarkan apa yang mereka rasakan. Rasakan nikmatnya menjadi orang terdekat yang mengerti mereka.

7.       Tentukan rutinitas
Rutinitas membuat anak Anda merasa aman dan memberi struktur terhadap waktu yang mereka miliki. Namun tak selalu berarti harus mengikuti jadwal sesuai jam. “Rutinitas itu penting, agar anak-anak jadi tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Tak perlu berdasarkan jam, berdasarkan rutinitas juga bisa. Dengan demikian mereka belajar keteraturan. Misalnya, usai bermain di sore hari, mereka mandi, makan malam, sikat gigi, cuci kaki, lalu tidur,” ujar Nanny Stella.

8.      Rasa hormat berlaku dua arah
Kalau Anda tidak menghormati anak Anda, mereka tidak akan menghormati Anda. Hukumnya “perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan”. Menghormati mereka dengan memberikan apa yang menjadi hak mereka tanpa menunda, juga mendengarkan apa yang mereka ingin katakan.

9.      Penguatan positif lebih baik dari penguatan negatif
Sanjungan, pujian, dan kebanggaan jauh lebih bermanfaat daripada bersikap nyinyir, negatif, dan mengacuhkan. Lebih baik mengucapkan penguatan positif kepadanya untuk menyampaikan maksud Anda, bukan menunjuk ke suatu kata sifat yang melabeli. Misalnya, “Mama senang sekali melihat usaha kamu meningkatkan nilai Matematika kamu” lebih baik ketimbang, “Kamu pintar. Nilai Matematika kamu sudah naik 1 angka di rapor”. Ketika Anda melabeli suatu titik, ia akan berhenti di sana dan tidak berusaha untuk berkembang.

10.    Tingkah laku adalah hal yang universal
Tingkah laku yang baik diterima oleh siapa pun. Contohkan padanya untuk mengucapkan “terima kasih, tolong, atau maaf” kepada orang-orang yang bersinggungan. Di mana pun, sopan-santun selalu diperlukan. Ajarkan tata krama kepadanya lewat tindakan Anda. Anak seperti kaset kosong yang merekam apa pun yang mereka lihat dari orang-orang, atau apa yang ia saksikan. Maka, berikan contoh terbaik kepadanya.

11.     Definisikan peran Anda sebagai orangtua
Bukan tugas Anda untuk membuat anak menempel pada Anda. Tugas Anda adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia luar, dan membiarkannya menjadi diri sendiri. Jangan selalu menempel dan membantunya mengerjakan segala hal. Sesekali ia pun harus belajar menghadapi rasa sakit hati, rasa gagal, juga rasa tak mampu. Ini penting agar ia bisa mencari jalan untuk mengatasi keterbatasannya.

Selamat mencoba...:)

Sabtu, 17 Desember 2011

NILAI DAN BUKU RAPOR


Minggu-minggu ini mungkin banyak orangtua cemas menantikan hasil belajar anak-anak mereka selama semester pertama. Adakah warna merah di rapor anakku? Apakah nilai-nilainya dibawah rata-rata kelas? Bagaimana rankingnya?. Ya..ya.. mereka sedang menanti pembagian raport yang akan dilakukan sebelum libur Natal minggu besok. Beberapa sekolah bahkan sudah membagikannya di minggu ini.
Seberapa pentingkah nilai di dalam buku rapor?
Dalam bukunya Fifty Nifty Ways to Help Your Child Become a Better Learner, Philip Johnson, Ph.D. justru berpendapat nilai seringkali kontrapoduktif. Nilai cenderung mendorong para siswa berkompetisi daripada bekerja sama sehingga mereka berpikir bahwa nilai adalah hasil paling penting daripada belajar. Belajar tidak dianggap sebagai suatu proses dimana para siswa akan memperoleh kecakapan dan pengetahuan baru serta menerapkannya untuk hal yang berguna. Untuk memperoleh nilai bagus, cukup dengan mengingat dan menghafal.
Buku raport adalah kumpulan hasil evaluasi berupa angka (nilai). Umumnya yang dievaluasi adalah kumpulan fakta, seperti dalam matematika, IPA, sejarah, hafalan, dan materi-materi ketat lainnya. Tak banyak sekolah yang serius mengevaluasi rasa ingin tahu, kecakapan menyelesaikan masalah, kemampuan merangkum dan menghubungkan teori dan hasil eksplorasi sendiri, penerapan moral dalam keseharian, kemampuan untuk mendengarkan, kreatifitas, serta kecakapan lain dalam proses belajar.  
Karena hanya mengevaluasi materi secara terbatas, nilai justru mengganggu proses belajar, bukannya membantu. Namun, sayangnya saat ini nilai adalah suatu kenyataan.
Lalu bagaimana orangtua bisa menyiasati kenyataan tersebut sehingga anak-anak memahami bahwa nilai bukanlah hal paling penting dalam proses belajar? Berikut ini beberapa tips bagaimana orangtua dapat menangani masalah nilai ini dengan lebih baik:
1.  Jangan membesar-besarkan. Nilai bukanlah masalah besar. Perlihatkan minat anda, tetapi jangan membuat anak merasa bahwa sekolah hanyalah menyangkut buku raport. Atau membuat kesan bahwa anda lebih mementingkan nilai.
2.    Jangan memberikan penghargaan atau menghukum anak berkaitan dengan buku raport atau nilai mereka. Makin sering kita menggunakan imbalan dan hukuman daripada memperkuat kegembiraan dalam belajar, makin kecil manfaat yang kita peroleh. Dengan berusaha mendapatkan penghargaan – entah itu uang, barang, atau pujian – anak cenderung mempelajari sesuatu yang tak mereka suka.
3.   Jangan menjadi orangtua yang selalu membanding-bandingkan nilai anak Anda dengan anak yang lain. Atau membandingkan raport sekarang atau raport sebelumnya, atau membandingkan dengan anda sendiri saat seusianya.
4.  Tetap tekankan pada anak bahwa yang penting adalah belajar untuk menjadi pencari pengetahuan, menjadi termotivasi, untuk mampu memecakan masalah, untuk mencari tahu tentang sesuatu, berani bereksplorasi dan mencoba, berpikir di luar buku teks, dan sebagainya.
5.  Sering berdialog dengan guru dan pastikan mereka mengetahui bahwa anda peduli dengan proses pembelajaran anak, bukan hanya pada kumpulan informasi yang diukur dengan sebuah buku raport.
Nah, alih-alih menanyakan ranking anak saat mengambil raport, bolehlah ayah bunda menanyakan tentang kemajuan cara belajarnya, tentang rasa ingin tahu, tentang kecakapan merangkum dan bertanya, tentang sosialisasinya, tentang karakter, tentang apa yang disukainya…;)
Selamat mencoba!

(diolah dari Fifty Nifty Ways to Help Your Child to Become A Better Learner, Chapter: Grades and Report Cards, Philip E. Johnson, Ph.D.)   

Minggu, 27 November 2011

TEKNIK MEMBANGUN IKATAN SEHAT DENGAN ANAK


Banyak penelitian menunjukkan, keterikatan orangtua dengan anak-anaknya berpengaruh besar terhadap seberapa baik fungsi buah hatinya sebagai orang dewasa kelak. Itu sebabnya, sangat penting bagi orangtua untuk membangun hubungan sehat dengan anak-anaknya.
Menurut Carin Goldstein, seorang terapis perkawinan dan keluarga berlisensi di Amerika Serikat, berikut ini adalah beberapa langkah membangun hubungan sehat antara orang tua dengan buah hatinya seperti dikutip situs yourtango.com:
1.    Anda dan pasangan adalah contoh utama bagi anak dalam hal hubungan dan komunikasi antara dua orang dewasa. Dari momen pertamanya menghembuskan nafas di dunia, anak selalu mengawasi dan menyerap bagaimana Anda dan pasangan berinteraksi. Segala hal diserap oleh anak, mulai dari cara anda berdebat, menyentuh, tidak menyentuh, nada suara, pengaturan tidur dan lain sebagainya.
2.    Tunjukkan rasa hormat kepada anak. Sejak lahir bayi merasakan dunia dan orang-orang di sekitarnya. Mereka tahu apa yang mereka butuhkan dan merupakan tugas orangtua untuk menginterpretasikannya. Mengabaikan anak yang menangis sebagai satu-satunya cara mereka mengomunikasikan perasaannya, pada dasarnya mengatakan kepada anak bahwa mereka tidak cukup penting bagi anda.
3.  Meminta maaf kepada anak dan bertanggung jawab ketika anda membuat kesalahan merupakan salah satu hadiah terbesar yang dapat anda berikan kepada mereka. Menunjukkan kelemahan anda sebagai manusia akan menanamkan kepercayaan yang kuat antara anda berdua. Anak juga akan belajar bahwa membuat kesalahan merupakan suatu kekeliruan yang dapat diterima. Selain itu, tidak apa-apa untuk tidak menjadi sempurna.
4.  Jika orangtua memiliki isu yang belum terselesaikan dari masa kecilnya sendiri, sangat penting bagi mereka untuk mengambil waktu dan merenungkannya. Jangan sampai hal-hal yang tak dapat anda toleransi ketika kanak-kanak dulu, tanpa sadar terulang kepada buah hati anda.
5. Bayi dan anak-anak menilai ancaman, keamanan, dan kenyamanan berdasarkan ekspresi wajah anda. Menjalin kontak mata dan meniru ekspresi wajah buah hati, mengirimkan pesan bahwa mereka layak terhubung dengan anda. Di sinilah letak tahap awal rasa percaya diri bagi anak, yang secara langsung memengaruhi jenis ikatan yang dijalinnya dengan anda.
6.   Penelitian menunjukkan, anak yang tidak mendapat cukup dekapan selama masa bayi menjadi tertekan. Sentuhan dan pelukan mampu melepaskan oksitosin, yang berperan sebagai hormon ikatan. Jadi, tidak mengherankan apabila sentuhan fisik sangat penting untuk membangun ikatan yang sehat antara orangtua dan anak. (Yul/OL-06)
Selamat mencoba ayah-bunda!

(sumber: Yulia Permata Sari, Media Indonesia, 2 Juli 2011)

Sabtu, 19 November 2011

NO! NO! NO!...NO!


“Jangan kesana ya! Bahaya!”
“Awas, jangan mainan itu. Nanti kotor!”
“Jangan lari-lari, nanti jatuh!”
Ucapan bernada larangan semacam itu seringkali terlontar dari mulut orangtua. Maksudnya sih sebagai tanda kasih sayang kepada anak agar tidak celaka. Namun jika berlebihan justru akan membuat perkembangan anak terhambat.
Anak-anak diciptakan dengan rasa ingin tahu (curiosity) yang besar. Rasa ingin tahu adalah dasar keinginan untuk bereksplorasi. Tiap melakukan eksplorasi, mereka mengalami hal-hal baru yang membuat mereka makin tahu dan makin banyak lagi bereksplorasi. Hal ini amat penting untuk perkembangan intelektual anak. Tugas orangtua adalah membimbing dan mengarahkan agar rasa ingin tahu tersebut on track sesuai jalurnya.
Pada suatu lokakarya yang pernah kami ikuti diberikan sebuah contoh bagaimana terlalu banyak larangan hanya akan membuat anak tak berani berinsiiatif dan berkreasi.
Dalam sebuah aula yang dihadiri oleh peserta lokakarya, 2 orang diminta keluar dan akan dipersilakan masuk setelah mendapat aba-aba. Peserta di dalam aula sepakat untuk memberikan perintah menulis sebuah kata di papan tulis. Suatu tanda atau bunyi denting bel disepakati sebagai sebuah larangan. Jika bel itu berdenting, artinya langkah orang tersebut salah dan harus menemukan cara atau jalan yang lain agar tujuannya tercapai.
Setelah mendapat aba-aba, orang pertama – yang telah diberi tahu tentang aturan itu – masuk. Baru dua langkah, bel berdenting. Ia pun merubah arah jalannya. Tiga langkah maju ke depan, bel berbunyi lagi. Ia pun merubah arah lagi. Masih dengan mantap, ia berjalan . Namun tiga langkah, bel berbunyi, tiga langkah lagi berbunyi lagi. Sekarang setiap tiga langkah bel berdenting nyaring. Sikapnya pun tak lagi percaya diri. Akibatnya, sang volunteer sekarang menjadi ragu untuk melangkah. Dan tak sanggup menyelesaikan tugas yang diberikan.
Volunteer kedua pun masuk. Berbeda dengan yang pertama, tak banyak denting bel yang ia dapatkan. Hanya jika benar-benar melakukan kesalahan fatal. Ia pun melangkah percaya diri, tak merasa cemas dan takut berinisiatif karena pasti akan diberi tahu jika ada kesalahan.
Tak heran, jika volunteer kedua ini dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat.
Kesimpulannya: anak yang terlalu banyak dilarang melakukan sesuatu cenderung tak berani bertindak inistiatif dan berkreasi. Sebaliknya, anak sedikit mengalami larangan atau jika dilarang disertai dengan penjelasan lebih berani berinsiatif dan merasa aman untuk berkreasi.
Bagaimana dengan anak-anak ayah-bunda? Apakah kita termasuk orang nyinyir yang hanya punya perbendaharaan kata ‘NO atau DON”T?’    
Demi perkembangan anak-anak kita yang wajar, insyaAllah tidak kan? Sipp!