Kamis, 06 Agustus 2015

STYLE PENUMPANG MANAKAH ANDA?


share tulisan lama...



Karena nggak punya motor, apalagi mobil yang suara pintunya bila ditutup menimbulkan efek prestise: 'beb!…', ya saya naik metromini tiap kali berangkat kerja. Yang namanya naik angkutan umum di Jakarta, penumpang harus benar-benar punya mental baja. Gimana nggak? Wong si sopir bisa seenaknya ngetem dimana saja dan kapan saja. Bisa juga tiba-tiba ngebut tak terkendali seperti dikejar hantu. Setelah lama berdiri, dan baru dapat tempat duduk, eh tahu-tahu dioper. Itulah romantikanya...
Kalau mau enak, ya naik taksi. Nah, ini jadi persoalan sendiri sejak adanya kasus-kasus perampokan penumpang taksi dan naiknya tarif taksi. Sekarang bukan lagi argo kuda tapi sudah argo cheetah . Baru sebentar saja melek, tahu-ahu sudah sekian puluh ribu. Tentu saja ini - ditambah rencana dengan kenaikan TDL, BBM, gas elpiji, PAM - 'menggoncangkan' kondisi finansial keluarga. Kecuali jika dibayarin oleh perusahaan. Tapi tetap saja ini menambah budget, makanya beberapa perusahaan sekarang mengetatkan anggaran bagi karyawan yang kerjanya 'keluyuran' ke luar kantor. Minimal antri pakai mobi perusahaan deh..
Tapi, ada enaknya juga naik angkot atau metro mini. Terutama di pagi hari. Lihat penampilankaryawan yang masih seger dan murah senyum (bandingkan jika saat pulang kantor). Juga lihat anak-anak sekolah yang selalu ceria, tanpa beban tipe ABG yang optimis karena masih 'bebas' stress. Juga mempelajari karakter-karakter penumpang. Ternyata, karakter orang itu bisa dilihat dari caranya membayar lho.. He..he..ini nggak ilmiah kok, jadi nggak usah dimasukin ke hati yang paling dalem.
Mau tahu?
1.   Tipe Opportunis
Ini adalah tipe penumpang yang mencari celah untuk tidak membayar pas dengan alasan: '..biasanya segitu, bang, wong ekat kok..! atau '..di depan situ saja ok!..' dsb. Biasanya respon sopir atau kernet adalah:'..ya sudah, lain kali jangan dibiasakan..'. Itu respon saat sopir sudah memenuhi setoran. Atau ' iyalah, ke depan, masak jalannya mundur..! Nah, yang ini sopir belum dapat setoran tapi masih optimis terpenuhi dalam , periode jam kerjanya. Atau ..mas/mbak, ini sudah SK Gubernur kalau tarifnya segini. Kalau nggak mau jalan saja..'. Kalau responnya begini, mending bayar saja deh karena kemungkinan besar setoran belum terpenuhi atau si sopir/kernet punya kebutuhan tambahan hari itu. Ya, mestinya kita membayar pas sesuai tarif jauh dekatnya. karena sopir harus memenuhi setoran kepada pemilik angkutan, dan sisanyalah yang dibawa pulang untuk anak istri. Siapa tahu hari itu mereka membutuhkan uang tambahan untuk beli susu anaknya atau untuk menebus obat istrinya. Jika kekurangan yang mestinya kita bayar itu mengakibatkan tidak terbelinya susu atau tertebusnya obat yang mengakibatkan si anak kurang gizi atau si istri makin parah sakitnya, saya kuatir Allah memandang kita sebagai salah satu pengkontribusinya. Astagfirullah..

2.   Tipe Culas
Biasanya ini terdapat pada anak-anak sekolah yang naiknya bengerombolan. Sekali naik rame-rame tapi mbayarnya cuma untuk dua-tiga orang. Biasanya kernet dalam posisi tak
berdaya daripada diserbu sama anak-anak sekolah yang jadi lebih galak kalau pas bubaran. Atau pada orang yang sengaja tidak membayar jika tidak ditagih. Apalagi pas penuh sesak. Hati-hatilah kalau kita mengidap tipe ini. Saya pernah merasa 'bersyukur' bisa menghemat ongkos 500 perak saat kondektur terlewat 'menggunting' (saat itu bus kota tarifnya cuma segitu jauh-dekat). Sampai di rumah saya kehilangan uang 5000. Jadi hikmahnya, jika sengaja berbuat curang akan dibalas sepuluh kali lipat dari nilai kecurangan itu. Gitu ya?

3.   Tipe Menjengkelkan
Kernet atau kondektur, yang salah tugasnya menarik ongkos penumpang mempunyai taktik-taktik tertentu agar efektif dan efisien. Mereka akan jengkel – bahkan terkadang kita ikutan jengkel karena ini menghambat proses 'pengguntingan penumpang' – jika ketemu penumpang yang baru sibuk mencari uang saat ditagih ongkosnya. Eh, ternyata uangnya ada di dompet, dompetnya ada di dalam tas dan nyelusep di bawah. Setelah brak-brak..brak…bruk..ketemu, dompet dibuka, yang isinya bisa membuat orang terbercik niat nggak baik karena penuh dengan bermacam-macam kartu, dsb, eh membayarnya pakai uang lima puluh ribuan lagi yang membuat repot kernet membayar kembaliannya. Kalau pas nggak ada kembalian dan mentok mau menukar dimana, biasanya sopir atau kondektur merelakannya. Sekali lagi, kita mengurangi rejeki yang mestinya menjadi hak mereka. Makanya, kalau mau bepergian lebih baik bila kita menyiapkan uang recehan secukupnya.

4.   Tipe Menyusahkan
Dalam rangka mengerjakan tugasnya seefektif dan seefisien mungkin, kernet menyusun ongkos-ongkos penumpang dalam bendelan. Masing-masing bendel bernilai 10000. Jika
setoran sudah terpenuhi, mereka menyisihkan uang setoran ke salah satu saku mereka atau ditaruh di brankas di dekat sopir (memang beberapa angkot punya brankas ini). Mereka membeberkan ribuan-ribuan ongkos yang diterima dari penumpang dalam tangannya supaya rapi dan mudah menyusun dalam bendelan. Adakalanya, sengaja atau tidak, penumpang ikutan menghambat aktifitas proses ini (coba kalau semua penumpang sarjana Industri, atau pernah bela'ar TQM, & Tools Management, atau setidaknya mengerti kalau efisien itu mempermudah pekerjaan). Terkadang cuek saja penumpang memberikan uang sudah lecek, ditambal dengan plester, dan dilipat-lipat lagi. Ini membutuhkan waktu ekstra bagi kernet untuk merapikannya. Untung saja uang lecek itu masih diterima, karena kita pun sebenarnya ogah menerima kembalian uang yang lecek itu kan?

5.   Tipe Menyenangkan & Bermanfaat
Nah, kalau yang ini kernet suka. Penumpang tipe ini memberikan ongkos yang pas sesuai tarif yang berlaku. Atau kalau pun tidak pas tetapi masih dalam taraf wajar yang tidak merepotkan kernet mencari kembalian. Sebelum memberikannya pun dirapikan dulu, malah disusun rapi per sisi gambar uang yang sesuai. Jadi bisa turut berkontribusi agar kernet bisa melakukan tugasnya dengan efektif dan efisien.

Jadi, apa inti cerita diatas?
Tidak ada salahnya, malah lebih bagus kali ya (atau harus?), kalau berusaha menjadi Tipe Yang Menyenangkan & Beermanfaat untuk bersosiaiisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu saja yang namanya kehidupan bermasyarakat tidak hanya dengan sopir, kernet, atau kondektur. Ada banyak individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat yang kerap berinteraksi dengan kita. Kalau kita bisa bersikap dan bertingkah menyenangkan dan bermanfaat bagi mereka tanpa pamrih dan berharap sesuatu, tentu itu akan bernilai lebih. Menyenangkan dan bermanfaat tidak hanya bagi manusia, juga bagi seluruh komponen alam (rahmatan lil alamin).
Itulah konsep khalifatullah, konsep manusia sebagai khalifah Allah yang memberikan rahmat di muka bumi. Siapkah kita?
Atau pertanyaan yang lebih sederhana: masuk tipe mana kita dalam kategori di atas?

Wallahu 'alam



lh – 10/03/06


Senin, 16 Maret 2015

KNOWING vs BEING

Para orang tua dan guru yang berbahagia....,
Suatu hari saya kedatangan seorang tamu dari negeri Eropa, dan seperti biasa setelah tugas-tugas utama kami selesai, saya selalu menawarkan dan mengajak rekan saya untuk berjalan-jalan melihat-lihat keindahan objek-objek wisata kota Jakarta dan sekitarnya. Dan sepanjang jalan kami terus berbincang-bincang mengenai berbagai hal. Dan pada saat kami ingin menyeberang jalan kawan saya ini selalu berusaha untuk mencari zebra cross untuk tempat kita menyebrang.

Berbeda dengan saya sendiri dan kebanyakan orang Jakarta pada umumnya yang dengan mudahnya menyeberang jalan dimana saja ia suka, bahkan tidak hanya menyebrang jalan, banyak dari mereka yang dengan santainya melompati pagar pembatas jalan yang tingginya hampir satu meter. Dan sungguh aneh bahwa teman saya ini tetap saja tidak terpengaruh oleh situasi, dan masih saja terus mencari zabra cross setiap kali dia mau menyeberang. Meskipun saya tahu bahwa di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dengan zebra cross.
Dan yang lebih memalukan lagi adalah bahwa meskipun sudah ada zebra cross tetap saja para pengemudi tidak mau memberikan kita jalan dan tetap menancap gasnya sehingga rekan saya ini sering menggeleng-gelengkan kepalanya tanda begitu kagumnya terhadap prilaku bangsa kita.
Sebuah fenomena yang cukup menggelitik yang tampak nyata di depan saya, perbedaan antara teman saya yang dari Eropa ini dengan saya dan bangsa saya.
Dan pada saat kami sedang beristirahat disalah satu tempat wisata, akhirnya tak tahan lagi bagi saya untuk menanyakan pandangan teman saya ini mengenai fenomena menyebrang jalan tadi, meskipun sebenarnya dalam hati kecil saya merasa agak malu juga.
Saya bertanya mengapa orang-orang di negara kami menyebrang tidak pada tempatnya, meskipun sesungguhnya jika ditanya mereka tahu bahwa Zebra Cross itu adalah tempat untuk menyebrang jalan. Sementara saya perhatikan, anda selalu konsisten mencari zebra Cross untuk tempat menyebrang meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan zebra cross, tanya saya padanya.
Setelah selesai menyantap makan siangnya lalu pelan-pelan dia mulai menjawab pertanyaan saya. Katanya: "Edy, it's all happens because of the education system!". Edy, semua ini terjadi penyebabnya adalah karena sistem pendidikan, katanya. Wah! Bukan main kagetnya saya mendengar jawaban rekan saya ini. Apa hubungannya antara menyebrang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan?, pikir saya dalam hati.
Lalu teman saya ini melanjutkan penjelasannya. Di dunia ini ada dua jenis sistem pendidikan: yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk “Knowing” atau sekedar tahu saja, sedangkan yang lainnya sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi mahluk “Being”.
Lalu saya katakan apa maksudnya?
Kebanyakan sekolah yang ada hanya bisa mengajarkan banyak hal untuk diketahui para siswanya, sementara sekolah tadi tidak mampu membangun kesadaran siswa untuk mau melakukan apa yang dia ketahui itu sebagai bagian dari kehidupannya. Sehingga anak-anak tumbuh hanya menjadi “mahluk Knowing”, yang hanya sekedar mengetahui bahwa zebra cross adalah tempat menyeberang, tempat sampah adalah untuk menaruh sampah tapi mereka tetap menyebrang dan membuang sampah sembarangan.
Ciri-ciri sekolah semacam ini biasanya memiliki banyak sekali mata pelajaran yang diajarkan pada siswanya sehingga tak jarang membuat para mereka stress dan mogok sekolah. Segala macam di ajarkan dan banyak hal yang diujikan, tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian dilakukan. Ya...karena ujiannyapun hanya sekedar tahu saja. “Knowing”.
Sementara di negara kami, sistem pendidikan benar-benar di arahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya tahu apa yang benar akan tetapi mereka juga mau melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupannya.
Di negara kami anak-anak hanya di ajarkan 3 mata pelajaran pokok yakni Basic Science, Basic Art dan Social yang semuanya dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus terhadap kejadian nyata yang terjadi diseputar kehidupan mereka. sehingga mereka tidak hanya tahu, melainkan mereka juga mau menerapkan ilmu yang diketahuinya dalam keseharian kehidupan mereka.
Anak-anak ini juga tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu. Cara ini mulai di ajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk “Being”. Yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar.
Wow! Sungguh penjelasan yang luar biasa dan telah membuat saya begitu tercengang! Betapa sekolah itu sesungguhnya begitu memegang peranan penting dalam pembentukan perilaku dan mental anak-anak bangsa. Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa.
Ya...kini saya mulai menyadari bahwa sekolah-sekolah kita mestinya lebih di arahkan untuk mencetak generasi yang tidak hanya sekedar tahu tentang hal-hal yang benar tapi jauh lebih penting untuk mencetak anak-anak yang mau melakukan apa-apa yang mereka ketahui itu benar. Yaitu mencetak manusia-manusia yang “Being”.
Para orang-orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada...,
Mari kita renungkan bersama....
Apakah sekolah-sekolah kita, tempat anak-anak kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan dan kurikulum yang akan menjadikan anak-anak kita menjadi mahluk “Being” atau hanya sekedar menjadi Mahluk “Knowing” saja..?
Kisah di ambil dari buku Ayah Edy Punya Cerita

Kamis, 08 Mei 2014

FATHER HUNGER

Ulan semakin besar sekarang. Area bermainnya pun sudah mulai melebar di luar kompleks perumahan. Seringkali membuat janji bersama teman-temannya untuk bermain di suatu tempat. Jika bermainnya jauh, ia dan teman-temannya butuh seseorang yang menjaga. Nah, yang ketiban tugas itu adalah ayah Ulan.
“Lan, hari Sabtu kita main yuk ke KidZania. Tapi, siapa yang jaga kita ya?”, ungkap Zura, teman Ulan.
“Tenang saja. Nanti aku bilang ayahku ya…bisa atau tidak”, jawab Ulan kepada teman-temannya.
Biasanya, ayah Ulan tak akan menolak tawaran itu. Saat-saat seperti itu adalah kesempatan emas bagi para orang tua untuk menjalin kedekatan dengan anak, dan mengetahui dengan siapa saja si anak berkawan dan bagaimana sikap dan tingkah lakunya terhadap teman-temannya. Anakpun merasakan kehadiran ayah (orang tua) saat ia membutuhkan.
Apakah kita dirindukan kehadirannya oleh anak-anak kita? Hmm…itu pertanyaan yang menarik.
Ada istilah keren akhir-akhir ini: Father-Hunger. Kata itu merujuk pada gangguan psikologis yang diderita anak-anak yang tidak ‘mengenal’ ayahnya. Anak-anak yang merindukan kehadiran sosok seorang ayah. Konon, mindset lama yang membagi peran ayah hanya bertugas mencari nafkah dan pengasuhan anak sepenuhnya tanggung jawab ibu turut andil membentuknya.
Ayah hadir secara fisik ketika saat menyediakan uang sekolah, belanja bulanan, namun tak hadir secara psikis dalam jiwa anak. Anak-anak yang mengidap ‘kelaparan’ ini bisa berakibat:
1.    Rendah diri
2.    Childist (kekanak-kanakan)
3.    Tidak mandiri
4.    Gamang menetapkan identitas seksual (cendrung feminine, atau malah hipermaskulin)
5.    Kurang bisa mengambil keputusan
6.    Bagi anak perempuan, tanpa model peran seorang ayah, setelah dewasa ia bisa kesulitan menentukan pasangan yang tepat. Nah…;)
Karena sangat penting kehadiran seoarang ayah, baik secara fisik ataupun psikis, terutama ketika usia Golden Age anak, dimana anak merekam segala sesuatu dalam kehidupannya. Termasuk peran dan sikap ayah terhadapnya.
“Enak, kamu ya, Lan. Ayahmu selalu bisa diajak”, kata Nuha ungkapkan perasaannya.
Yuk, para ayah kita mulai terlibat dalam mengasuh anak-anak kita supaya anak-anak kita tak kehilangan figure seorang ayah.
Sipp!

Sabtu, 14 Desember 2013

"AKU INGIN IBUKU MEMANGGILKU..."

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika. 

“Apa yang kamu inginkan ?”, Dika hanya menggeleng. 
“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?”, tanya saya.
“Biasa-biasa saja”, jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kami pun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata - rata anak saya mencapai 147 (sangat cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian, dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (rata-rata cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. 
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku...”. Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadual kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. 

Ketika psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku…”. Dika menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”.

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak…” Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”. 

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai fotocopy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak...”. Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”. 

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang...”. Dikapun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”.

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang...”, Dika menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari...”, Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”.

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari...”, Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”. Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku...”, Dikapun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”. 

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”, kependekan dari kata “Kontole” yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku...", Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”. Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok.  "Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami
saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang
jengkel, ternyata ada banyak pesan yang tak terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLAH.
Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional, saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLAH.


(ditulis oleh : Lesminingtyas)