Sabtu, 06 Agustus 2011

JANGAN PAKSA ANAK BELAJAR YANG TAK MEREKA SUKA

Syahdan di tengah-tengah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “Disamakan dengan Manusia”. Sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia.  Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia. Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk lulus dan mendapatkan ijazah, setiap siswa harus berhasil pada 5 mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran. 
Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah: terbang, berenang, memanjat, berlari, dan menyelam.
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan Manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainnya sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana. Mulai dari elang, tupai, bebek, rusa, dan katak.
Proses belajar mengajar pun akhirnya dimulai. Segera terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu. Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang. Dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi. Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat. Dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.  Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang. Dengan gayanya yang khas, ia berhasil menyeberangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.  Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari. Kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.  Lain lagi dengan katak. Ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam. Dengan gaya berenangnya yang unik, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu.  Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah. Inilah awal dari semua kekacauan itu. Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat dan berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal. Dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.Tupaipun demikian. Ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.  Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang. Tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat. Berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh. Luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu. Demikian juga dengan binatang lainya. Meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya, perlahan-lahan elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya. Tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik. Sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah rusa. Ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.
Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu. Dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup di lingkungan dimana mereka dulu tinggal. Ya..kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya.
Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.
Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?
Jawabannya tentu tidak, bukan? Namun dalam skala lebih kecil, apakah selama ini kita memaksakan anak-anak kita mengikuti kegiatan atau les yang sebenarnya tak mereka suka dan lupa memberi dukungan pada minat mereka?
Silakan direnungkan...

(diambil dan diolah dari cerita Emmy Soekresno di Parenting Workshop & dari Catatan Utie Adnu on facebook dari Blog Ayah Edy: Indonesian Strong From Home)

Tidak ada komentar: